Belakang Padang — Dari uang pribadi dan tenaga para tukang becak, seorang polisi merawat kenyamanan wisatawan sekaligus menjaga harapan ekonomi Pulau Penawar Rindu.
Di Belakang Padang, pulau kecil di ujung Batam yang berhadapan langsung dengan Singapura, becak bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah bagian dari wajah kampung, denyut pariwisata, dan tumpuan hidup orang-orang yang masih setia mengayuh roda di tengah perubahan zaman.
Ketika kendaraan bermotor menawarkan perjalanan yang lebih cepat, para tukang becak harus berjuang agar profesi mereka tak perlahan kehilangan tempat.
Di tengah kenyataan itu, Aipda Ropianto memilih untuk tidak sekadar menyaksikan. Ia berusaha merawat harapan, bukan hanya bagi para pengayuh becak, tetapi juga bagi pariwisata pulau yang dijuluki Penawar Rindu itu.
Sejak 2022, anggota Polri yang bertugas di SPKT Polresta Barelang ini mendirikan Persatuan Tukang Becak Belakang Padang. Dari 80 anggota yang terdaftar, sekitar 45 orang masih aktif.
“Yang aktif hanya 45 tukang becak,” ujar Ropianto di sela kegiatan memperbaiki jalan bersama sejumlah tukang becak di Jalan Kampung Jawa, Kamis (15/10/2026).
Bagi Ropianto, persatuan adalah cara agar mereka tak harus mengayuh nasib sendirian. Sebab, di balik roda becak yang berputar, ada keluarga yang menunggu nafkah, anak-anak yang membutuhkan biaya sekolah, dan dapur yang mesti terus mengepulkan asap.
Ia melihat pariwisata sebagai salah satu jalan untuk mempertahankan kehidupan para tukang becak. Setiap akhir pekan, wisatawan domestik maupun mancanegara datang menikmati suasana kampung, semilir angin laut, dan kuliner khas Belakang Padang.
Dengan becak, mereka dapat menikmati pulau secara perlahan—menyapa kehidupan yang mungkin tak ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.
Namun, perjalanan yang menyenangkan membutuhkan jalan yang nyaman.
Jalan berlubang bukan hanya menyulitkan kayuhan, tetapi juga dapat mengusik kenyamanan penumpang. Maka, Ropianto turun tangan. Dengan uang pribadi, ia membantu membiayai perbaikan jalan, sementara para tukang becak menyumbangkan tenaga.
Di Jalan Kampung Jawa, kepedulian tak berhenti sebagai kata-kata. Semen diaduk, lubang ditambal, dan harapan dikerjakan dengan tangan sendiri.
Tetapi, merawat kenyamanan wisatawan bukan semata-mata kepentingan tukang becak. Ini adalah kepentingan bersama.
Ada pengemudi motor sangkut yang mengangkut wisatawan menuju Belakang Padang. Ada pengusaha kuliner dan pelaku UMKM yang menunggu pengunjung singgah. Ada pula sektor perbankan yang menjadi bagian dari perputaran transaksi, termasuk melalui pembayaran digital QRIS.
Mereka berada dalam satu lingkaran ekonomi yang sama. Wisatawan yang merasa nyaman berpeluang kembali, dan setiap kunjungan membuka kesempatan bagi banyak orang untuk memperoleh rezeki
Karena itu, perjuangan Ropianto semestinya tidak dibiarkan berjalan sendirian. Para pengemudi motor sangkut, pelaku UMKM, dunia usaha, dan perbankan patut ikut mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing, baik melalui gotong royong, bantuan bahan, maupun program pemberdayaan masyarakat.
Jangan sampai semua pihak berharap wisatawan terus berdatangan, tetapi hanya seorang polisi dan para tukang becak yang bersedia turun tangan merawat jalan yang mereka lalui
Tentu, gotong royong bukan alasan bagi pemerintah untuk melepaskan tanggung jawab. Perbaikan dan pemeliharaan fasilitas umum tetap membutuhkan perhatian pemerintah serta penanganan yang memenuhi standar keselamatan.
Apa yang dilakukan Ropianto semestinya menjadi pemantik kolaborasi, bukan pengganti kewajiban pihak berwenang.
Sebab, pariwisata bukan sekadar mendatangkan pengunjung atau menjual keindahan sebuah pulau. Pariwisata juga berarti merawat kenyamanan dan memastikan manfaat ekonomi mengalir kepada masyarakat yang hidup di dalamnya.
Ropianto mungkin tak mampu menghentikan laju zaman. Ia pun tak bisa menjamin bahwa beberapa lubang yang ditambal akan serta-merta menyejahterakan para tukang becak. Namun, ia sedang berusaha agar profesi itu tak kehilangan harapan di tengah perubahan.
Di Pulau Penawar Rindu, wisatawan datang mencari suasana yang berbeda. Sementara masyarakat setempat berharap setiap kunjungan membawa sesuatu yang lebih berarti daripada sekadar keramaian: kesempatan untuk hidup lebih baik.
Dari adukan semen di Jalan Kampung Jawa, Ropianto seolah mengingatkan bahwa jalan bukan hanya perkara aspal dan semen. Ia juga menyangkut kenyamanan, keberlangsungan usaha, dan masa depan orang-orang yang menggantungkan hidup pada pariwisata
Jika Belakang Padang ingin terus menjadi tempat yang dirindukan, keindahannya harus dirawat bersama. Sebab, di balik setiap perjalanan wisata, ada banyak kehidupan yang berharap ikut sampai ke tujuan.
Dan jalan menuju kesejahteraan itu tak seharusnya dikayuh sendirian. (jonkavi)








Komentar