BATAM – PT Puri Global Sukses (PGS) Tbk memaparkan kinerja perusahaan tahun 2025 sekaligus target usaha tahun 2026 dalam kegiatan Public Expose yang digelar di kantor perusahaan, kawasan Pasir Putih, Bengkong, Batam, Senin (15/6/2026).
Dalam paparannya, manajemen menyampaikan bahwa perseroan merealisasikan pendapatan sebesar 26,40 persen dari target yang ditetapkan pada tahun 2025.
Secretary Corporate PT PGS, Jessica, mengatakan perseroan optimistis dapat memperbaiki kinerja pada tahun 2026 seiring rencana penyelesaian proses serah terima unit tersebut.
“Seiring dengan rencana penyelesaian penyerahan unit tersebut, perseroan menargetkan pendapatan tahun 2026 sebesar Rp78,57 miliar atau meningkat sekitar 47,63 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Selain itu, laba bersih tahun 2026 ditargetkan mencapai Rp3,98 miliar,” ujar Jessica.
Untuk mendukung pertumbuhan usaha ke depan, perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi, di antaranya mendorong pertumbuhan usaha yang berkelanjutan, mengembangkan rantai pasok (supply chain), serta mengelola aset dan struktur permodalan secara lebih efisien.
Pada tahun 2026, PGS menyiapkan tiga proyek utama dengan total nilai investasi mencapai Rp880 miliar.
Proyek pertama adalah The Monde City Phase 2 dengan nilai investasi Rp280 miliar dan sebanyak 120 unit yang akan dikembangkan. Selanjutnya, Monde Raffle Business District dengan nilai proyek Rp100 miliar yang mencakup pembangunan 46 blok ruko atau kawasan bisnis.
Sementara proyek terbesar adalah Tembesi Residence, yakni pengembangan kawasan perumahan di atas lahan seluas 10 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp500 miliar.
Perseroan menilai salah satu tantangan utama dalam pengembangan bisnis properti di Batam saat ini adalah keterbatasan lahan, khususnya di lokasi-lokasi strategis.
Menurut manajemen, sebagian besar wilayah Batam merupakan kawasan hutan lindung sehingga ruang untuk pengembangan hunian, kawasan komersial, maupun pusat ritel menjadi semakin terbatas.
Meski demikian, sepanjang tahun 2025 perusahaan mengaku tidak menghadapi kendala signifikan yang mengganggu operasional.
Selain menargetkan pendapatan sebesar Rp78,57 miliar, perseroan juga menargetkan laba bersih sebesar Rp3,98 miliar pada tahun 2026 atau berbalik dari posisi rugi pada tahun sebelumnya.
Peningkatan kinerja tersebut diproyeksikan berasal dari kontribusi penjualan apartemen Monde City.
Untuk mendukung pengembangan usaha, perusahaan masih mengandalkan pembiayaan dari utang bank jangka pendek dan modal dengan tetap mempertimbangkan efisiensi biaya modal.
Terkait rencana ekspansi usaha, Finance Advisor PT PGS, Ardi, menegaskan bahwa perusahaan masih fokus pada pembangunan perumahan, ruko, apartemen, dan pengembangan lahan.
“Untuk rencana mendirikan hotel, kami masih harus mempelajari terlebih dahulu aspek delivery atau penyerapannya di pasar. Apabila faktor tersebut memungkinkan, tidak menutup kemungkinan pada tahap berikutnya akan kami rencanakan. Namun saat ini fokus kami masih pada pembangunan rumah, ruko, apartemen, dan tanah yang kami kembangkan,” kata Ardi.
Perseroan juga mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2026 sebesar Rp77,52 miliar.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan anggaran capex tahun 2025 yang mencapai Rp101,1 miliar dengan realisasi penggunaan dana sebesar Rp100,56 miliar atau hampir 100 persen dari target.
“Capex tahun 2026 menurun menjadi Rp77,52 miliar. Penurunan ini terjadi karena sebagian besar proyek yang kami kerjakan saat ini sudah memasuki tahap penyelesaian sehingga tidak lagi membutuhkan investasi yang besar seperti pada tahap pembangunan awal,” jelas manajemen.
Hingga pertengahan tahun 2026, realisasi penggunaan capex telah mencapai sekitar Rp28 miliar atau setara 36,71 persen dari total anggaran yang disiapkan. Dana tersebut digunakan untuk mendukung penyelesaian proyek yang sedang berjalan dan pengembangan sejumlah kawasan prioritas perusahaan.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen menyebut terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi industri properti saat ini.
Kepala Legal PT PGS, Fajar, mengatakan perubahan regulasi pemerintah, proses birokrasi dan perizinan, serta kondisi perekonomian menjadi faktor yang memengaruhi prospek usaha ke depan.
“Kita juga melihat perkembangan kondisi ekonomi saat ini karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap prospek usaha ke depan,” ujar Fajar.
Selain itu, keterbatasan lahan di kawasan strategis juga menjadi perhatian perusahaan.
“Saat ini mendapatkan lahan baru di lokasi yang strategis semakin sulit karena sebagian besar kawasan yang potensial sudah masuk dalam kategori lahan yang terbatas ketersediaannya,” jelasnya.
Di tengah persaingan industri properti, PGS optimistis memiliki sejumlah keunggulan kompetitif dibandingkan pengembang lainnya.
Jessica menjelaskan seluruh proyek yang dikembangkan perusahaan berada di lokasi strategis yang dekat dengan pusat pemerintahan, pusat perbelanjaan, serta kawasan permukiman yang telah berkembang.
“Seluruh proyek yang kami kembangkan, baik perumahan, apartemen maupun ruko, berada di lokasi yang strategis dan dekat dengan berbagai pusat aktivitas masyarakat. Selain itu, kami mengusung konsep lifestyle living yang mengintegrasikan kebutuhan hunian, area komersial, dan fasilitas pendukung dalam satu kawasan,” ujar Jessica.
Menurutnya, konsep pengembangan terpadu tersebut tidak hanya memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi penghuni, tetapi juga menawarkan prospek investasi yang menarik dengan potensi imbal hasil (yield) yang kompetitif.
“Keunggulan lokasi, konsep pengembangan terpadu, serta tingginya kebutuhan pasar menjadi faktor yang kami yakini dapat meningkatkan nilai investasi bagi konsumen maupun investor,” pungkasnya.








Komentar