BATAM – Organisasi lingkungan Akar Bhumi Indonesia (ABI) memperingatkan Kota Batam tengah menghadapi krisis air baku yang semakin mengkhawatirkan.
Penyusutan debit air di sejumlah bendungan, kerusakan daerah tangkapan air (DTA), hingga meningkatnya kebutuhan air dinilai menjadi indikator nyata bahwa ketersediaan air baku di Batam tidak lagi mampu mengimbangi laju pertumbuhan kota.
Pendiri ABI, Hendrik Hermawan, mengungkapkan hasil verifikasi lapangan menunjukkan tinggi muka air Bendungan Nongsa di Kelurahan Sambau telah menyusut sekitar 2,5 meter.
Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya fungsi daerah tangkapan air, rendahnya curah hujan, serta lonjakan kebutuhan air yang telah melampaui kapasitas produksi bendungan.
“Jika merujuk pada kapasitas produksi optimal Bendungan Nongsa sebesar 60 liter per detik, maka dalam setahun hanya mampu menghasilkan sekitar 1,9 juta meter kubik air,” ujar Hendrik, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, angka tersebut jauh di bawah proyeksi kebutuhan air domestik Kecamatan Nongsa yang pada 2026 diperkirakan mencapai 20 juta meter kubik per tahun.
Perhitungan itu bahkan belum memasukkan kebutuhan sektor industri, perdagangan, pariwisata, maupun pusat data (data center) yang terus berkembang di kawasan Batam Timur.
Saat ini, Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Badan Usaha Sistem Pengelolaan Air Minum telah mengalihkan pasokan air baku untuk masyarakat Nongsa dari Bendungan Duriangkang. Padahal, Bendungan Duriangkang selama ini menyuplai sekitar 70 persen kebutuhan air Kota Batam.
Menurut Hendrik, kebijakan tersebut hanya menjadi solusi sementara dan tidak menyelesaikan persoalan mendasar.
“Pemindahan pasokan dari satu bendungan ke bendungan lain hanyalah langkah jangka pendek. Ini justru menunjukkan Batam sedang menghadapi krisis air baku,” katanya.

Defisit Air Capai 141 Juta Meter Kubik
ABI mengacu pada Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Batam Tahun 2026 yang ditandatangani Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, pada 22 April 2026.
Dalam dokumen tersebut disebutkan kebutuhan air domestik bagi sekitar 1,39 juta penduduk Batam mencapai 280 juta meter kubik per tahun.
Sementara itu, ketersediaan air baku tahunan hanya sekitar 139 juta meter kubik. Artinya, Batam mengalami defisit sekitar 141 juta meter kubik atau lebih dari separuh total kebutuhan air masyarakat.
“Krisis air itu sebenarnya sudah terjadi, tetapi BP Batam menutup-nutupinya,” tegas Hendrik.
Ia menilai kebijakan penjatahan air (water rationing) serta distribusi air menggunakan mobil tangki ke sejumlah kawasan permukiman menjadi bukti bahwa kondisi pasokan air baku sudah berada dalam tekanan.
Hendrik mendesak BP Batam membuka data kondisi air baku secara transparan sekaligus menyusun langkah-langkah penyelamatan yang terukur.
Menurutnya, Batam memiliki kerentanan tinggi karena merupakan pulau kecil yang tidak memiliki sungai sebagai sumber air baku. Seluruh kebutuhan air bergantung pada bendungan yang dibangun melalui modifikasi kawasan muara dan teluk untuk menampung air hujan.
Karena itu, perlindungan terhadap enam bendungan utama, yakni Bendungan Nongsa, Sei Harapan, Sei Ladi, Muka Kuning, Tembesi, dan Duriangkang harus menjadi prioritas, termasuk pemulihan daerah tangkapan air beserta jaringan tali airnya.
Selain menjaga bendungan, ABI juga mendorong pemerintah mulai menyiapkan sumber air baku alternatif melalui pembangunan instalasi daur ulang air limbah serta desalinasi air laut.
Hendrik mencontohkan Singapura yang telah memanfaatkan air hasil daur ulang untuk memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan air bakunya, sementara sekitar 10 persen dipenuhi melalui instalasi desalinasi.
Ia juga meminta rencana pengaliran air baku dari luar daerah yang pernah disampaikan Kepala BP Batam segera direalisasikan, meski mengingatkan agar tidak bergantung pada Pulau Bintan yang juga menghadapi keterbatasan air baku.
Selain itu, teknologi modifikasi cuaca dinilai masih perlu dilanjutkan sebagai langkah darurat untuk meningkatkan cadangan air bendungan.
“Pemerintah harus memastikan air baku yang tersedia diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Jangan sampai kebutuhan industri dan pusat data lebih diutamakan dibanding hak dasar warga,” ujarnya.
Bendungan Terancam Sedimentasi dan Pencemaran
Selain persoalan kuantitas, ABI juga menyoroti penurunan kualitas air di sejumlah bendungan.
Hendrik mengatakan sekitar 250 meter permukaan Bendungan Nongsa kini dipenuhi sedimen tanah merah yang terbawa melalui tali air akibat aktivitas pemotongan bukit dan penambangan pasir ilegal di kawasan sekitarnya.

Material tersebut bahkan telah mengeras menyerupai daratan dengan permukaan yang retak akibat kekeringan.
Tak hanya itu, tekanan terhadap daerah tangkapan air Bendungan Nongsa juga berasal dari pembukaan lahan pertanian baru seluas lebih dari dua hektare yang dilakukan menggunakan alat berat.
Kondisi serupa terjadi di Bendungan Tembesi. ABI menemukan berbagai sumber pencemaran berasal dari aktivitas pertanian, perkebunan, peternakan, pabrik batu bata, industri tahu, hingga tambak ikan yang masuk ke badan air.
Tekanan terhadap bendungan juga datang dari pembakaran hutan secara ilegal serta pengalokasian lahan di kawasan daerah tangkapan air untuk kepentingan industri dan pariwisata.
Di sisi lain, Hendrik meminta rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di atas Bendungan Tembesi dikaji secara komprehensif.
Menurutnya, fungsi utama Bendungan Tembesi adalah sebagai sumber air baku, berbeda dengan Waduk Cirata di Jawa Barat yang sejak awal memang dibangun untuk mendukung pembangkit listrik tenaga air.
“Jangan sampai demi mengejar energi bersih, kita justru mengorbankan sumber air baku Batam. Apalagi jika energi yang dihasilkan nantinya lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan di luar daerah,” katanya.
Hendrik juga mengingatkan pengalaman Bendungan Baloi yang berhenti beroperasi sejak 2012 akibat pencemaran dari aktivitas permukiman liar di sekitarnya.
Kini bendungan tersebut berubah menjadi penampung limbah rumah tangga dan tidak lagi dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku.
“Jangan sampai tragedi Bendungan Baloi kembali terulang di bendungan lain. Bagi Batam yang tidak memiliki sumber air baku alternatif, setetes air pun sangat berharga,” tutup Hendrik.













Komentar