BATAM – Panggung kecil di lamankata komunitas seni rumahitam kembali bergelora. Sejumlah penyair dari berbagai deerah bersua dengan sejumlah penggiat sastra dan pecinta dunia kata kata kota batam.
Peristiwa budaya ini berlangsung Jumat (30/10) malam di lamankata komunitas seni rumahitam. Tepatnya di halaman galeri tanjak, suratan coffee & resto komunitas seni rumahitam.
Sejumlah penyair dari Jakarta, Padang, dan Pekanbaru berkumpul di Laman Kata Rumahitam, kawasan Sekupang, dalam sebuah pertemuan sastra yang diwarnai pembacaan puisi dan obrolan kebudayaan.
Para penyair dari berbagai daerah tersebut singgah di rumahitam, setelah mengikuti Festival Sastra Raja Ali Haji di Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri).
Sebelum kembali ke daerah masing-masing, mereka menyempatkan diri singgah di panggung Laman Kata Suratan Coffee & resto komunitas seni rumahitam, untuk bersilaturahmi dengan para pegiat sastra Batam.
Tiga penyair yang hadir di antaranya Hening Wicara dari Pekanbaru, Novriza dari Padang, dan Yahya Andi Saputra dari Jakarta. Mereka berbagi panggung dengan sejumlah penyair lainnya dalam suasana malam yang penuh keakraban.
Presiden Komunitas seni Rumahitam, Tarmizi mengatakan, kunjungan para penyair dari luar daerah setelah mengikuti festival sastra di Kepri sudah menjadi tradisi yang berlangsung sejak lama.
Menurutnya, para penyair yang tampil di berbagai kegiatan sastra di Bintan, Tanjungpinang, maupun Karimun biasanya menyempatkan diri berkunjung ke Rumahitam.
“Dari dulu begitu, habis tampil di Bintan, Tanjungpinang atau Karimun, Lingga dan lainnya, mereka akan mampir di Rumahitam sambil beranjangsana dengan penyair dan penulis sastra di Batam. Bercengkrama dan baca puisi di panggung lamankata rumahitam,” kata Tarmizi.
Puisi tentang MBG hingga Bencana Asap Mengisi Panggung
Malam itu, masing-masing penyair menghadirkan karya dengan tema dan karakter berbeda.
Yahya Andi Saputra, penyair asal Jakarta, tampil membawakan puisi berjudul Ayat MBG. Dengan penampilan dan karakter vocalnya yang khas, Yahya berhasil membuat puluhan audiens terkesima.
Ayat MBG yang dibacakan tersebut menyentuh perhatian penonton melalui pesan yang disampaikan sebagai bentuk pengingat dan kritikan tajam.
Sementara itu, Novriza dari Padang tampil dengan pembacaan puisi yang menggelegar. Ia membawakan karya ciptaannya sendiri yang mengangkat bencana banjir dan angin siklon di Padang.
Nuansa berbeda hadir melalui penampilan Hening Wicara dari Pekanbaru. Ia membacakan puisi bertema bencana asap, sebuah persoalan lingkungan yang memiliki kedekatan dengan pengalaman masyarakat di wilayah Sumatera.
Selain ketiganya, Gochi dari Jakarta dan Emi Cilung juga turut tampil menyemarakkan panggung Laman Kata Rumahitam.
Penyair dan pegiat sastra dari Batam pun tidak ketinggalan. Mereka di antaranya Ning, seorang penyair perempuan yang juga berprofesi sebagai guru sekolah dasar, Cak Ansor, Rimare, Kavi yang merupakan Ketua PWI Batam, serta Denni Risman, pengurus SIWO PWI Pusat.
Kehadiran penyair dari berbagai daerah tersebut menjadikan panggung Laman Kata sebagai ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan ekspresi melalui karya sastra.
Sejumlah peminat sastra yang datang hanya untuk menyaksikan, mengaku sangat menikmati peristiwa budaya malam itu.
Osman Hasyim, seorang tokoh Melayu Batam dan pengusaha perkapalan mengaku akan selalu hadir setiap kegiatan sastra selanjutnya.
“Saya kenal tarmizi rumahitam sudah sangat lama. Saya tau banyak perjuangan beliau. Malam ini saya pertama menghadiri kegiatan di lamankata. Untuk berikutnya saya akan selalu hadir untuk menikmati,” sebut Osaman.
Senada dengan Osman, H Juanda, Ketua Persatuan Masyarakat Aceh (Permasa) Kota Batam, yang juga pengusaha perkapalan menyebut sangat tercerahkan.
“Saya tidak pernah menyaksika panggung puisi serupa malam ini. Saya sangat beruntung bisa ada di lamankata rumahitam malam. Untuk peristiwa serupa yang akan datang, saya minta pak tarmizi untuk mengingatkan. Saya akan selalu datang walau hanya jadi penikmat,” kata H Juanda.
Rumahitam Rawat Kehidupan Sastra dan Budaya Melayu
Bagi Komunitas Rumahitam, kunjungan para penyair dari luar daerah bukan sekadar agenda silaturahmi. Pertemuan semacam ini menjadi bagian dari upaya menjaga kehidupan sastra agar tetap tumbuh di Kota Batam
Agenda rutin panggung SEBAB PUISI, yang dilaksanakan Sabtu ke dua setiap bulan, di lamankata Komunitas Rumahitam bersama PWI Kepri secara rutin merupakan salah satu kegiatan merawat geliat dan apresiasi.
Agenda agenda lain juga akan digelorakan, sebagai usaha dan rekam jejak tanggung jawab memberi roh kesastraan bagi kota batam yang tak pernah tidur dari aktifitas industri, perdagangan dan pariwisata.
Program budaya yang diinisiasi Komunitas Seni Rumahitam tersebut digagas oleh penyair sekaligus budayawan Tarmizi Rumahitam sebagai wadah untuk menjaga geliat sastra dan membuka ruang perjumpaan bagi para pelaku seni kata.
SEBAB PUISI tidak hanya menjadi agenda pembacaan puisi. Kegiatan ini juga dirancang sebagai ruang interaksi budaya bagi peserta untuk berbagi gagasan, pengalaman, dan pandangan tentang perkembangan dunia sastra.
Melalui kegiatan tersebut, Rumahitam berupaya mempertemukan pelaku sastra lintas generasi sekaligus memperkenalkan seni kata kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Aktivitas budaya Rumahitam juga berkembang di kawasan kreatif Kompleks Rumahitam, termasuk panggung seni di Suratan Coffee & Resto komunitas seni rumahitam, Sekupang.
Di bawah gerakan budaya yang dipelopori Tarmizi Rumahitam, tempat ini tidak hanya menjadi panggung pembacaan puisi, tetapi juga ruang pelestarian budaya Melayu.
Berbagai kegiatan dilakukan untuk mempertahankan tradisi dan kerajinan Melayu, termasuk pembuatan tanjak.
Melalui Laman Kata dan SEBAB PUISI, Rumahitam terus berupaya memastikan sastra tetap memiliki ruang hidup di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus budaya digital.
Sebab, ada kata-kata yang tidak selalu cukup disampaikan melalui percakapan sehari-hari. Sebagian membutuhkan ruang, perasaan, dan penghayatan untuk bisa sampai kepada orang lain.
Di panggung Laman Kata Rumahitam, kata-kata itu kembali menemukan tempatnya. Malam itu, puisi bukan sekadar dibacakan, tetapi menjadi jembatan pertemuan para penyair dari berbagai negeri.














Komentar