Merah Muda Fest: Patriotisme Tak Cukup dengan Sumpah, Pemuda Harus Berani Bergerak dan Membawa Perubahan

BATAM – Patriotisme tidak selalu harus ditunjukkan melalui perjuangan di medan perang. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, semangat cinta Tanah Air justru diuji melalui keberanian menyuarakan kebenaran, kepedulian terhadap sesama, serta kesediaan mengambil tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan.

Bagi generasi muda masa kini, mencintai Indonesia bukan sekadar menghafal sejarah perjuangan bangsa atau mengulang ikrar Sumpah Pemuda setiap tahun. Patriotisme harus hidup dalam tindakan, tumbuh dalam keberanian menyampaikan gagasan, dan menemukan maknanya melalui kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Semangat itulah yang berusaha dihidupkan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Batam melalui Merah Muda Fest: Menyongsong 100 Tahun Sumpah Pemuda, dengan semangat Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan. Merah Berani, Muda Beraksi.

Melalui sarasehan refleksi semangat Sumpah Pemuda bertema “Tidak Ada yang Berani Memulai yang Baru Kecuali Mereka yang Berani Gagal”, para pemuda diajak menengok kembali makna perjuangan sekaligus mempertanyakan satu hal penting: sudah sejauh mana generasi muda hari ini berani mengambil peran dalam menentukan masa depan bangsanya?

Kegiatan yang digelar secara sederhana di halaman Kantor Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kota Batam, Jumat (30/10/2026), itu menjadi ruang perjumpaan bagi generasi muda untuk bertukar pikiran, membangun keberanian, dan menegaskan bahwa perubahan tidak harus menunggu seseorang menjadi besar atau memiliki kekuasaan.

Perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, dari keberanian mencoba, bahkan dari kesediaan menerima kegagalan.

Sebab, sejarah bangsa ini telah memberikan pelajaran bahwa perubahan besar kerap bermula dari sekelompok anak muda yang berani melampaui batas zamannya.

Dari Ikrar Sejarah Menuju Aksi Nyata

Hampir satu abad lalu, tepatnya pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, daerah, dan bahasa menyatukan tekad melalui Sumpah Pemuda. Mereka memilih berdiri sebagai satu bangsa, satu Tanah Air, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Saat itu, Indonesia belum merdeka. Namun, para pemuda telah memiliki keberanian untuk membayangkan sebuah bangsa yang bebas dari penjajahan.

Kini, tantangan yang dihadapi generasi muda tentu berbeda. Mereka tidak lagi berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk yang sama seperti masa lalu. Akan tetapi, perjuangan belum selesai.

Ketimpangan sosial, persoalan lapangan kerja, kualitas pendidikan, tantangan ekonomi, perkembangan teknologi, hingga rendahnya kepedulian terhadap persoalan publik menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi bersama.

Di Batam, kota industri yang terus berkembang dan menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah, tantangan tersebut terasa semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.

Mereka dituntut memiliki kompetensi untuk bersaing di dunia kerja, tetapi pada saat yang sama juga perlu memiliki kepekaan sosial, kesadaran berbangsa, serta keberanian untuk menyuarakan kepentingan masyarakat.

Di sinilah patriotisme menemukan wajah barunya.

Pemuda yang patriotik bukan hanya mereka yang lantang berbicara tentang nasionalisme, melainkan juga mereka yang mau belajar, bekerja dengan jujur, menghormati perbedaan, membantu sesama, dan tidak memilih diam ketika melihat persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.

Semangat tersebut menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam sarasehan refleksi Sumpah Pemuda yang menghadirkan Ketua Panitia Pelaksana Peringatan Sumpah Pemuda DPC PDI Perjuangan Kota Batam, Hatopan Jhohanes J Sihaloho; Sekretaris Panitia, Binsar Hadomuan Pasaribu; serta kader perempuan PDI Perjuangan, Putri.

Diskusi dipandu jurnalis Kota Batam, Faisal, dengan turut dihadiri Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Batam, Ernawati, S.H., pengurus DPD PDI Perjuangan Kepri, Sarti, serta para generasi muda PDI Perjuangan.

Melalui forum tersebut, semangat kepemudaan tidak hanya ditempatkan sebagai romantisme masa lalu, tetapi juga sebagai dorongan untuk menjawab tantangan masa kini.

Berani Memulai, Tidak Takut Gagal

Ada satu hal yang sering kali menjadi penghalang bagi anak muda untuk mengambil peran: keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.

Tidak sedikit yang merasa belum cukup berpengalaman, belum memiliki jaringan yang luas, atau takut melakukan kesalahan ketika harus memulai sesuatu yang baru.

Padahal, keberanian tidak selalu berarti seseorang telah memiliki seluruh jawaban. Terkadang, keberanian justru lahir ketika seseorang bersedia melangkah meskipun belum mengetahui seluruh tantangan yang akan dihadapi.

Pengalaman generasi muda dalam mempersiapkan rangkaian kegiatan peringatan Sumpah Pemuda di Batam menjadi gambaran bagaimana semangat tersebut diuji dalam praktik.

Dengan waktu persiapan yang relatif singkat dan sumber daya yang terbatas, para pemuda harus menyatukan gagasan, membagi tanggung jawab, membangun komunikasi, serta memastikan kegiatan dapat terlaksana.

Tentu, tidak semua proses berjalan sempurna. Namun, pengalaman itu menjadi ruang pembelajaran yang tidak selalu diperoleh melalui pendidikan formal.

Mereka belajar bahwa sebuah gagasan tidak akan menghasilkan perubahan jika hanya berhenti dalam percakapan. Ide membutuhkan keberanian untuk diwujudkan, kerja sama untuk dijalankan, serta kesediaan untuk memperbaiki kekurangan.

Dalam konteks inilah, tema keberanian memulai sesuatu yang baru menemukan relevansinya.

Pemuda tidak harus menunggu menjadi ahli untuk memberikan kontribusi. Mereka dapat memulainya dari lingkungan terdekat, komunitas, tempat kerja, kampus, maupun organisasi sosial.

Yang terpenting, keberanian itu harus disertai tanggung jawab.

Sebab, patriotisme bukan sekadar keberanian tampil di depan, melainkan juga kesanggupan menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Politik Bukan Sekadar Perebutan Kekuasaan

Perjuangan generasi muda masa kini juga tidak dapat dilepaskan dari kesadaran politik.

Selama ini, politik kerap dipandang sebagai dunia yang rumit, penuh persaingan, dan hanya berkaitan dengan perebutan kekuasaan. Pandangan semacam itu dapat membuat sebagian anak muda memilih menjauh dan menganggap politik bukan bagian dari kehidupan mereka.

Padahal, keputusan politik memiliki pengaruh langsung terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesempatan kerja, pelayanan kesehatan, transportasi, hingga kebijakan pembangunan daerah.

Karena itu, menjauh sepenuhnya dari persoalan politik bukan berarti seseorang terbebas dari dampaknya.

Anak muda yang bekerja di kawasan industri, misalnya, tetap berkepentingan terhadap kebijakan ketenagakerjaan, peningkatan keterampilan, upah, dan kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak.

Begitu pula mahasiswa yang berkepentingan terhadap kualitas pendidikan, akses terhadap kesempatan kerja, dan masa depan pembangunan daerah.

Kesadaran politik menjadi penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi pihak yang menerima keputusan, tetapi juga memahami bagaimana keputusan tersebut dibuat dan bagaimana mereka dapat berpartisipasi di dalamnya.

Namun, melek politik tidak berarti setiap anak muda harus menjadi politisi atau bergabung dengan partai politik tertentu.

Partisipasi dapat dimulai dengan mengikuti perkembangan kebijakan publik, memeriksa kebenaran informasi, menyampaikan kritik berdasarkan fakta, mengikuti forum diskusi, hingga terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan masing-masing.

Pilihan politik merupakan hak setiap warga negara. Yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa politik harus dapat menjadi ruang untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, bukan sekadar sarana mengejar jabatan.

Bagi generasi muda Batam, pemahaman ini menjadi semakin penting. Sebagai bagian dari masyarakat kota industri yang dinamis, mereka memiliki pengalaman langsung mengenai persoalan sosial dan ekonomi yang membutuhkan perhatian bersama.

Suara mereka dibutuhkan, tetapi suara itu akan lebih bermakna ketika disertai pengetahuan, argumentasi yang kuat, dan kesediaan terlibat dalam mencari solusi.

Kritik Harus Berujung pada Kepedulian

Patriotisme juga tidak identik dengan sikap selalu membenarkan pemerintah. Mencintai bangsa berarti memiliki kepedulian terhadap masa depan negara, termasuk keberanian mengingatkan ketika kebijakan atau tindakan penyelenggara pemerintahan dinilai tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat.

Kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Melalui kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab, masyarakat dapat mengingatkan pemegang kekuasaan agar tetap berpihak pada kepentingan publik.

Namun, kritik yang kuat bukan sekadar suara keras atau pernyataan yang ramai diperbincangkan. Kritik yang bermakna harus berangkat dari fakta, disampaikan dengan argumentasi, serta diarahkan untuk mendorong perbaikan.

Di sinilah generasi muda memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya politik yang sehat.

Mereka perlu berani mempertanyakan kebijakan, tetapi juga bersedia mempelajari persoalan secara utuh. Mereka boleh berbeda pendapat, tetapi harus tetap menghormati perbedaan. Mereka dapat menyampaikan protes, tetapi juga perlu membuka ruang dialog dan menawarkan gagasan penyelesaian.

Lebih dari itu, kepedulian tidak boleh berhenti pada kritik.

Persoalan sosial di sekitar mereka membutuhkan keterlibatan nyata. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, ketika lingkungan menghadapi masalah, atau ketika kelompok rentan memerlukan perhatian, generasi muda dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.

Dengan demikian, patriotisme tidak hanya terlihat dalam keberanian berbicara, tetapi juga dalam kesediaan bekerja untuk kepentingan bersama.

Dari Forum Diskusi ke Setetes Darah untuk Kemanusiaan

Salah satu pelajaran penting dari rangkaian peringatan Sumpah Pemuda di Batam adalah bahwa semangat kebangsaan dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang menyentuh kehidupan manusia.

Aksi donor darah yang menjadi bagian dari kegiatan sosial tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan tidak selalu harus dimulai melalui langkah besar.

Setetes darah yang disumbangkan seseorang mungkin terlihat kecil. Namun, bagi pasien yang membutuhkan transfusi, sumbangan itu dapat menjadi bagian penting dari upaya menyelamatkan nyawa.

Di situlah nilai kemanusiaan bertemu dengan patriotisme.

Jika pada 1928 para pemuda berani melampaui sekat-sekat kedaerahan untuk menyatakan diri sebagai satu bangsa, maka generasi muda sekarang perlu melanjutkan semangat persatuan itu melalui kepedulian yang melampaui perbedaan latar belakang.

Tidak penting dari mana seseorang berasal, apa pekerjaannya, atau apa pilihan politiknya. Ketika berhadapan dengan persoalan kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama harus menjadi titik temu.

Aksi sosial juga mengajarkan bahwa kontribusi tidak selalu diukur dari besarnya anggaran atau banyaknya orang yang terlibat.

Waktu, tenaga, pikiran, dan kemauan untuk bekerja bersama merupakan modal penting dalam membangun gerakan sosial.

Semangat gotong royong yang tumbuh dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berbuat.

Justru melalui keterbatasan, anak muda dapat belajar menyusun prioritas, membangun kolaborasi, dan mengubah gagasan menjadi kegiatan yang bermanfaat.

Dari ruang diskusi menuju aksi kemanusiaan, pesan yang hendak dibangun menjadi jelas: semangat Sumpah Pemuda harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam pidato dan peringatan tahunan.

Memberi Ruang, Bukan Mendikte

Tumbuhnya keberanian generasi muda tentu tidak dapat dilepaskan dari lingkungan yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar dan berkembang.

Anak muda membutuhkan ruang untuk menyampaikan pendapat, mencoba gagasan, mengorganisasi kegiatan, serta mengevaluasi kekurangan tanpa terus-menerus dibayangi ketakutan akan kesalahan.

Peran generasi senior, organisasi, dan institusi menjadi penting untuk membuka ruang tersebut.

Dukungan tidak seharusnya berubah menjadi upaya mengendalikan seluruh gagasan anak muda. Sebaliknya, generasi muda perlu dipercaya untuk mengambil keputusan, menghadapi tantangan, dan belajar bertanggung jawab atas pilihannya.

Ketika diberi kesempatan, mereka dapat membuktikan bahwa usia bukan satu-satunya ukuran kemampuan.

Pengalaman menyelenggarakan kegiatan kepemudaan juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun keterampilan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, serta kemampuan menyelesaikan masalah.

Hal-hal tersebut merupakan bekal penting, baik bagi mereka yang kelak memilih berkarier di dunia politik maupun yang menempuh jalan sebagai pekerja profesional, pengusaha, akademisi, jurnalis, atau pegiat sosial.

Yang dibutuhkan bukanlah generasi muda yang sekadar patuh atau mengikuti arus, melainkan generasi yang mampu berpikir mandiri, memahami tanggung jawab, dan berani mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya.

Sebab, masa depan bangsa tidak cukup ditopang oleh anak muda yang memiliki kecakapan teknis. Indonesia juga membutuhkan generasi yang memiliki integritas dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

Menyongsong Satu Abad Sumpah Pemuda

Menuju satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, pertanyaan mengenai peran generasi muda menjadi semakin relevan.

Apakah semangat persatuan hanya akan terus dikenang sebagai bagian dari sejarah, atau benar-benar diwujudkan untuk menjawab tantangan zaman?

Jawabannya tidak hanya ditentukan oleh kegiatan peringatan yang diselenggarakan setiap tahun. Jawaban itu bergantung pada keputusan-keputusan kecil yang diambil anak muda setiap hari: memilih peduli daripada bersikap apatis, mencari fakta daripada menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, membangun dialog daripada memperbesar perpecahan, serta mengambil tindakan daripada sekadar mengeluhkan keadaan.

Merah Muda Fest yang digelar DPC PDI Perjuangan Kota Batam menjadi salah satu ruang untuk menghidupkan percakapan tersebut.

Melalui sarasehan, keterlibatan generasi muda, dan aksi sosial, kegiatan itu mengingatkan bahwa patriotisme bukan milik satu generasi tertentu. Setiap zaman memiliki tantangan dan bentuk perjuangannya sendiri.

Jika dahulu para pemuda berjuang menyatukan bangsa di tengah kolonialisme, generasi sekarang ditantang untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan, memperkuat demokrasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memastikan pembangunan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Perjuangan itu tidak selalu dimulai dari panggung besar. Terkadang, ia berawal dari sebuah diskusi sederhana di halaman sekretariat, dari keberanian menyampaikan pendapat, atau dari keputusan seseorang untuk menyumbangkan darah demi menolong orang lain.

Langkah-langkah tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, perubahan besar selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia memulai.

Pada akhirnya, ukuran patriotisme pemuda bukanlah seberapa lantang mereka mengucapkan Sumpah Pemuda, melainkan seberapa sungguh-sungguh mereka menjaga maknanya dalam tindakan.

Sebab, pemuda yang mencintai Tanah Air bukanlah mereka yang hanya bangga pada sejarah bangsanya, melainkan mereka yang berani mengambil tanggung jawab untuk menulis babak berikutnya.

Merah berani, muda beraksi. Bukan sekadar slogan, melainkan sebuah tantangan bagi generasi muda Batam untuk membuktikan bahwa semangat Sumpah Pemuda tetap hidup—dalam pikiran yang kritis, hati yang peduli, dan tindakan nyata bagi Indonesia.

Komentar