BATAM – Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Batam, Nuryanto, mendorong terbangunnya hubungan yang sehat dan konstruktif antara media dengan pemerintah dalam mendukung pembangunan Kota Batam.
Menurut Nuryanto, kemitraan antara pers dan pemerintah penting untuk menjaga komunikasi serta menyampaikan berbagai informasi pembangunan kepada masyarakat. Namun, kemitraan tersebut tetap perlu dibangun dengan menghormati fungsi dan peran masing-masing.
Ia menilai media memiliki posisi strategis, bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian dari kontrol sosial yang dapat memberikan masukan terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
“Kalau ada yang salah, katakan salah. Kalau ada yang harus diperbaiki, sampaikan. Walaupun pahit, kritik itu untuk kebaikan bersama,” ujar Nuryanto.
Menurutnya, kritik yang disampaikan berdasarkan fakta justru dapat menjadi bahan evaluasi dan membantu pemerintah dalam melakukan perbaikan.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat tetap terbuka terhadap masukan dari media maupun masyarakat. Di sisi lain, media juga diharapkan tetap mengedepankan prinsip jurnalistik, terutama akurasi, verifikasi dan keberimbangan.
Informasi Harus Berbasis Fakta
Nuryanto mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan informasi di tengah perkembangan media sosial yang begitu cepat.
Menurutnya, media memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat telah melalui proses verifikasi dan konfirmasi.
“Jangan mengada-adakan sesuatu yang tidak ada, tetapi jangan pula meniadakan sesuatu yang ada. Karena itu adalah hak publik,” tegasnya.
Ia berharap hubungan yang baik antara media dan pemerintah tidak hanya sebatas kerja sama, tetapi juga menjadi ruang komunikasi yang terbuka untuk menyampaikan informasi, masukan maupun kritik secara proporsional.
Kritik sebagai Bahan Evaluasi
Nuryanto juga menilai kritik tidak selayaknya selalu dipandang sebagai sesuatu yang negatif.
Menurutnya, masukan dari media, masyarakat maupun berbagai elemen lainnya dapat menjadi bagian dari proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
“Masukan dan kritikan itu seperti pil dan vitamin untuk menjadi koreksi bersama. Siapa pun yang memegang kekuasaan dan mengambil kebijakan harus menghargainya sepanjang kritik tersebut dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia berharap perbedaan pandangan dapat disikapi secara dewasa dan menjadi bagian dari upaya bersama membangun Batam.
Sugianto: Jangan Terburu-buru Menilai Video yang Beredar
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga DPD PDI Perjuangan Provinsi Kepri, Sugianto S.H, turut menanggapi video pertemuan BP Batam dengan sejumlah pimpinan redaksi dan pemilik media yang belakangan beredar di masyarakat.
Sugianto memilih untuk tidak memberikan penilaian secara langsung karena dirinya tidak hadir dalam pertemuan tersebut.
“Saya tidak bisa mengomentari video yang beredar di masyarakat tentang pertemuan atau silaturahmi BP Batam dengan pimpinan redaksi dan pemilik media. Karena saya tidak hadir di sana,” katanya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan video atau informasi yang beredar di media sosial.
“Kita juga tidak bisa langsung menelan bulat-bulat apabila ada berita ataupun video yang beredar di masyarakat. Bisa jadi videonya sepotong,” ujarnya.
Menurut Sugianto, sebuah pertemuan perlu dilihat secara utuh agar konteks pembicaraan dapat dipahami dengan baik.
Ia juga menilai perbedaan gaya komunikasi setiap orang merupakan hal yang wajar. Menurutnya, setiap individu memiliki karakter dan cara tersendiri dalam menyampaikan sesuatu.
“Gaya bahasa seseorang itu berbeda-beda. Tidak mungkin gaya bahasa saya sama dengan Cak Nur. Saya juga tidak bisa memaksa Cak Nur seperti saya. Demikian juga dengan Ibu Wakil Wali Kota, ex officio Wakil Kepala BP Batam. Itu gaya beliau,” ujarnya.
Sugianto menilai gaya komunikasi Wakil Wali Kota Batam yang spontan dan ceplas-ceplos merupakan bagian dari karakter pribadinya.
“Gaya beliau yang ceplas-ceplos, spontan itu menunjukkan orangnya apa adanya. Tidak ada yang ditutupi. Apa yang disampaikan, ya disampaikan,” katanya.
Ia pun memilih tidak memperpanjang polemik yang berkembang dan berharap persoalan tersebut dapat dilihat secara proporsional.
“Untuk menghindari itu, saya tidak akan berkomentar di dalam polemik itu. Tapi menurut saya, yang katanya polemik itu tidak ada yang harus diperdebatkan lagi. Karena itu acara-acara silaturahmi,” ujarnya.
Bersama Menjaga Batam Tetap Kondusif
Dalam pandangannya, pembangunan Batam membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, aparat keamanan, media, pelaku usaha dan masyarakat.
Nuryanto menilai kondisi Batam yang aman dan kondusif merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kenyamanan masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan dunia usaha.
“Kalau situasi Batam aman dan kondusif, masyarakat nyaman. Kondisi itu juga menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan investor,” katanya.
Karena itu, sinergi antarlembaga perlu terus dibangun dengan tetap menghormati tugas dan kewenangan masing-masing.
Pemerintah menjalankan fungsi pemerintahan dan pelayanan publik, kepolisian menjaga keamanan dan ketertiban, sedangkan media menjalankan fungsi jurnalistik dan memberikan informasi kepada masyarakat.
Dengan komunikasi yang terbuka dan saling menghormati, berbagai perbedaan pandangan diharapkan dapat menjadi bagian dari proses membangun Batam yang lebih baik.
Kemitraan yang sehat bukan berarti semua pihak harus selalu memiliki pandangan yang sama. Justru melalui komunikasi, kritik, masukan dan keterbukaan, pembangunan dapat berjalan dengan lebih baik dan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.








Komentar