BATAM – Generasi muda diingatkan agar tidak bersikap apatis terhadap persoalan bangsa. Di tengah kemudahan akses informasi dan perkembangan teknologi digital, pemuda dituntut mampu berpikir kritis, meningkatkan literasi digital, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan politik.
Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi kepemudaan yang digelar Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Batam dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026.
Diskusi yang mengangkat tema “Konstruksi Patriotisme Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Semesta” tersebut menjadi ruang refleksi untuk membahas tantangan generasi muda sekaligus memperkuat semangat persatuan dan nasionalisme di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.
Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Batam, Sulthonah Luthfi, mengatakan tantangan yang dihadapi pemuda saat ini memang berbeda dengan perjuangan generasi muda pada 1928.
Namun, nilai-nilai persatuan, patriotisme, dan semangat memperjuangkan kepentingan bangsa yang diwariskan melalui Sumpah Pemuda harus tetap dipertahankan.
Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki keuntungan berupa kemudahan mengakses informasi melalui berbagai platform digital. Namun, kemudahan tersebut belum tentu diiringi kemampuan untuk memahami persoalan secara menyeluruh.
Ia menilai, salah satu tantangan yang perlu menjadi perhatian adalah kecenderungan sebagian pemuda menerima informasi secara instan tanpa menelusuri kebenaran, konteks, maupun penyebab di balik suatu peristiwa.
“Sekarang media sosial sudah ada di tangan. Untuk mencari berita dan informasi juga sangat mudah. Tetapi, dari kemudahan itu, terkadang anak muda justru tidak mau meriset lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi dan apa penyebabnya,” ujar Sulthonah.
Ia menjelaskan, berbagai isu nasional kerap memicu reaksi emosional setelah beredar melalui video singkat di media sosial. Padahal, informasi yang disajikan secara terbatas belum tentu mampu menggambarkan persoalan secara utuh.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Pemuda perlu membiasakan diri mencari referensi, membandingkan sumber informasi, serta memahami fakta sebelum menyampaikan pendapat atau mengambil kesimpulan.
Menurutnya, literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kecakapan berpikir kritis dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang publik.
Kekecewaan Politik Jangan Membuat Pemuda Apatis
Selain persoalan literasi digital, Sulthonah juga menyoroti kecenderungan sebagian generasi muda yang mulai kehilangan minat untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik.
Kekecewaan terhadap pemimpin maupun kondisi politik dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian pemuda memilih menjauh dari proses politik.
Padahal, menurutnya, kekecewaan tersebut semestinya menjadi dorongan untuk melakukan perbaikan, bukan alasan untuk bersikap acuh terhadap masa depan bangsa.
“Bukan berarti ketika kita kecewa, kemudian kita mengabaikan semuanya. Justru kekecewaan itu seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk memperbaiki keadaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, setiap kepemimpinan memiliki masa dan tantangannya masing-masing. Oleh karena itu, generasi muda harus mengambil peran dalam mendorong perubahan, mengawal jalannya pemerintahan, serta memberikan kontribusi bagi perbaikan kehidupan masyarakat.
Partisipasi politik, lanjutnya, tidak semata-mata diwujudkan melalui keterlibatan dalam pemilihan umum, tetapi juga melalui keberanian menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, mengawasi kebijakan publik, dan terlibat dalam berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Ia berharap momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bagi generasi muda untuk kembali menumbuhkan semangat perjuangan dan kepedulian terhadap bangsa.
Nilai persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 juga harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Menurutnya, menjaga keutuhan bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab generasi muda, melainkan seluruh warga negara Indonesia.
PDI Perjuangan Batam Gelar Tiga Rangkaian Kegiatan
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Peringatan Sumpah Pemuda DPC PDI Perjuangan Kota Batam, Hatopan Jhohanes J Sihaloho, mengatakan peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak seharusnya hanya menjadi agenda seremonial tahunan.
Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga semangat persatuan yang telah diwariskan para pemuda melalui ikrar Sumpah Pemuda pada 1928.
“Kami ingin mengingatkan masyarakat tentang pentingnya memperingati Sumpah Pemuda. Masyarakat harus tetap menyadari mengapa pada 1928 para pemuda mencetuskan Sumpah Pemuda, sehingga hal itu menjadi pengingat bagi kita dalam kehidupan bernegara saat ini,” kata Hatopan.
Ia menjelaskan, DPC PDI Perjuangan Kota Batam menyiapkan tiga rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun ini.
Ketiga kegiatan tersebut meliputi upacara peringatan Sumpah Pemuda, diskusi kepemudaan, serta aksi donor darah yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober 2026 mendatang.
Rangkaian kegiatan itu dirancang sebagai bentuk kepedulian pemuda PDI Perjuangan terhadap kehidupan masyarakat, khususnya di Kota Batam.
Hatopan mengatakan, pihaknya menyadari adanya pandangan di tengah masyarakat bahwa generasi muda saat ini cenderung pasif dan kurang terlibat dalam kegiatan sosial.
Karena itu, pemuda PDI Perjuangan ingin mengambil bagian dengan menghadirkan kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada diskusi, tetapi juga memberikan manfaat nyata.
Menurutnya, gagasan dan pemikiran yang disampaikan dalam forum diskusi harus diikuti tindakan konkret agar keberadaan pemuda benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kami menyadari bahwa pemuda itu jangan hanya soal ide dan bicara saja, tetapi harus ada tindak lanjut. Karena itu, pada tanggal 30 nanti kami sepakat untuk mendonorkan darah demi memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Targetkan Minimal 100 Pendonor
Sebagai bentuk kepedulian sosial, DPC PDI Perjuangan Kota Batam berencana menggelar aksi donor darah dengan menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI).
Kegiatan yang dijadwalkan pada 30 Oktober 2026 tersebut menargetkan sedikitnya 100 pendonor. Adapun jumlah kantong darah yang berpotensi terkumpul masih akan dibahas lebih lanjut bersama panitia dan pihak PMI.
Hatopan menegaskan, kegiatan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi kader PDI Perjuangan, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin berpartisipasi.
Pihaknya mengajak masyarakat Kota Batam untuk turut ambil bagian dalam aksi kemanusiaan tersebut sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui tiga rangkaian kegiatan itu, DPC PDI Perjuangan Kota Batam berharap peringatan Sumpah Pemuda dapat menjadi momentum untuk mendorong generasi muda agar lebih kritis, peduli terhadap lingkungan sosial, serta aktif mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Semangat Sumpah Pemuda diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah atau seremoni tahunan, tetapi terus diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menjaga persatuan, memperkuat solidaritas, dan mendorong kemajuan bangsa.














Komentar