Yayasan Yeho Tahu Kasih Rayakan Hari Ayah, Sembilan Opa Unjuk Kebolehan di Lomba Masak Nasi Goreng Penuh Cinta

BATAM – Asap tipis mengepul dari wajan yang panas. Aroma bawang putih dan racikan bumbu mulai memenuhi suasana. Sesekali terdengar suara spatula beradu dengan wajan, sementara para peserta tampak serius mengolah nasi goreng andal masing-masing.

Pemandangan berbeda terlihat di Aku Tahu Centre, Sei Panas, Kota Batam, Kamis (12/11/2026) pagi menjelang siang. Bukan para koki profesional yang berjibaku di dapur, melainkan sembilan opa dan bapak-bapak yang dengan penuh semangat mengikuti lomba memasak nasi goreng yang digelar Yayasan Yeho Tahu Kasih Batam.

Bagi sebagian peserta, kegiatan ini mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik setiap kepulan asap dan racikan bumbu, tersimpan pesan yang lebih dalam: usia senja bukan alasan untuk berhenti beraktivitas, belajar, apalagi berkarya.

Dengan penuh antusias, sembilan peserta yang terdiri dari para Opa-Opa antara lain, Pak Nyoman, Pak Yoko, Pak Hendri, Pak Anton, Pak RisVinal, Pak Harim, Pak Hery, Pak Tendy, dan Pak Alex mulai menunjukkan kemampuan mereka di depan kompor.

Ada yang tampak begitu percaya diri mengatur racikan bumbu. Ada pula yang sesekali harus berpikir keras memastikan nasi gorengnya matang dengan sempurna. Meski demikian, suasana tetap dipenuhi canda, tawa, dan semangat untuk memberikan hasil terbaik.

Menariknya, tidak semua peserta terbiasa berkutat di dapur. Bagi sebagian dari mereka, lomba ini justru menjadi pengalaman baru sekaligus kesempatan mencoba sesuatu yang mungkin selama ini lebih sering dilakukan oleh anggota keluarga lainnya.

Pemilihan nasi goreng sebagai menu perlombaan pun bukan tanpa alasan. Selain mudah dibuat dan dikenal luas, makanan sederhana ini menjadi pilihan tepat untuk memperkenalkan aktivitas memasak kepada para lansia.

Pendiri Yayasan Yeho Tahu Kasih Batam, Suhaida, mengatakan kegiatan tersebut sengaja digelar untuk membangkitkan semangat para opa dan bapak-bapak agar tetap aktif menjalani kehidupan, meskipun telah memasuki usia lanjut.

Menurutnya, masa tua seharusnya tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencoba hal-hal baru dan menikmati aktivitas yang menyenangkan.

“Karena ini kegiatan perdana kami, peserta yang ikut ada sembilan orang. Kami ingin memotivasi opa-opa dan bapak-bapak agar tetap memiliki semangat meskipun sudah berada di usia senja,” ujar Suhaida yang saat itu didampingi Lucy.

Bagi Suhaida, lomba memasak ini bukan semata-mata tentang siapa yang paling enak menghasilkan nasi goreng. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri, mengasah kreativitas, dan mempererat hubungan sosial antarsesama lansia.

Bukan Sekadar Rasa, Ada Semangat dan Kharism

Setelah berjibaku dengan wajan dan bumbu masing-masing, tibalah saatnya para peserta menyajikan hasil masakan mereka kepada dewan juri.

Tiga juri yang dipercaya memberikan penilaian adalah Ivone, Siau Cen, dan Ningsi. Mereka memiliki sejumlah kriteria untuk menentukan hasil perlombaan.

Penilaian tidak hanya berfokus pada cita rasa nasi goreng, tetapi juga kebersihan dan kerapian selama proses memasak, kreativitas serta penyajian, hingga semangat dan gaya atau kharisma masing-masing peserta.

Aspek terakhir menjadi salah satu hal menarik. Sebab, dalam perlombaan ini, penampilan dan semangat para peserta turut menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dibangun.

Setiap peserta memiliki cara tersendiri dalam menunjukkan kemampuannya. Ada yang tampil penuh percaya diri, ada pula yang terlihat menikmati setiap proses memasak dengan gaya khas masing-masing.

Setelah melalui proses penilaian, Pak Nyoman berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Pak Hendri, disusul Pak Risvinal sebagai juara ketiga, dan Pak Tendy di posisi keempat.

Meski kompetisi menghasilkan pemenang, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar membawa pulang gelar juara. Kebahagiaan, keberanian mencoba, dan kesempatan untuk tetap produktif menjadi nilai yang jauh lebih penting.

Masa Tua Bukan Berarti Berhenti Berkarya

Lomba memasak nasi goreng ini merupakan salah satu bentuk perhatian Yayasan Yeho Tahu Kasih Batam terhadap kehidupan sosial dan kualitas hidup masyarakat lanjut usia.

Tak hanya menggelar kegiatan sesekali, yayasan tersebut juga memiliki sejumlah program rutin dan sosial bagi kalangan lansia.

Di antaranya senam lansia setiap Sabtu di Taman Opa Oma, kegiatan pengobatan, hingga pembagian sembako pada momentum hari-hari besar nasional.

Dalam waktu dekat, Yayasan Yeho Tahu Kasih Batam juga telah menyiapkan kegiatan fashion show khusus lansia dan pra-lansia yang akan digelar di One Batam Mall pada 20 Desember 2026 mendatang.

Kegiatan tersebut diselenggarakan untuk menyambut peringatan Hari Ibu Nasional pada 22 Desember 2026. Panitia menargetkan sebanyak 70 peserta dari kalangan lansia dan pra-lansia umum se-Kota Batam.

Berbagai kegiatan itu menjadi upaya yayasan untuk memberikan ruang bagi para lansia agar tetap dapat bersosialisasi, menyalurkan kreativitas, serta menikmati kehidupan dengan penuh semangat.

Sebab, kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Terkadang, cukup dengan kesempatan mencoba hal baru, bertemu teman, tertawa bersama, dan mendapatkan apresiasi atas kemampuan diri.

Seperti yang terlihat dari sembilan opa yang hari itu berdiri di depan kompor. Mereka mungkin tidak semuanya terbiasa memasak, tetapi keberanian untuk mencoba telah menjadi kemenangan tersendiri.

Dari sepiring nasi goreng sederhana, tersampaikan sebuah pesan bermakna: usia boleh bertambah, rambut boleh memutih, tetapi semangat untuk hidup, belajar, dan berkarya tidak seharusnya ikut menua.

Komentar