BATAM – Suara tepukan tangan dan sorak para pendukung bersahutan di tengah arena pertandingan. Para pesilat muda bergantian memasuki gelanggang, saling berhadapan dengan kuda-kuda kokoh, sebelum melancarkan serangan dan tangkisan dalam pertarungan yang berlangsung sengit.
Suasana itu mewarnai Kejuaraan King of Silat Championship Open I Kepri di Mall Botania II, Batam Centre.
Sebanyak 1.091 atlet dari 91 kontingen ambil bagian dalam kejuaraan yang berlangsung selama tiga hari, 2-4 September. Para peserta berasal dari sekolah dan perguruan pencak silat di Kepulauan Riau, Riau, hingga Sumatera Utara.
Mereka bertanding dalam sejumlah kategori usia, mulai dari usia dini, pra-remaja, remaja, hingga dewasa.
Kejuaraan yang memperebutkan Piala Ketua DPRD Kepri, Iman Sutiawan, ini tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan di atas gelanggang.
Pertandingan juga menjadi ruang bagi para pesilat untuk mengukur hasil latihan sekaligus mempererat silaturahmi dan persaudaraan antarpesilat, perguruan, pelajar, dan masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Provinsi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kepri, Sugianto, menyambut baik pelaksanaan kejuaraan tersebut.
Menurut dia, kompetisi seperti ini penting untuk membuka jalan bagi lahirnya pesilat-pesilat berprestasi dari Kepulauan Riau.
“Saya menyambut baik kegiatan ini. Semoga nantinya kegiatan serupa dapat terus terlaksana dan ditiru oleh perguruan-perguruan pencak silat lainnya di Kepri,” kata Sugianto.
Menurut dia, semakin sering kompetisi digelar, semakin banyak pula kesempatan bagi atlet muda untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun karakter.
Disiplin, sportivitas, mental juang, dan tanggung jawab, kata Sugianto, merupakan nilai yang dapat tumbuh melalui olahraga pencak silat.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Iman Sutiawan yang mendukung pelaksanaan kejuaraan tersebut.
“Kami ucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Iman Sutiawan yang sudah mendukung dan turut melestarikan bela diri asli Indonesia, serta menyokong para atlet untuk terus semangat dan berprestasi,” ujarnya.
Pelaksana kegiatan, Didi Suryadi dan Syahrul Gunawan, mengatakan kejuaraan tersebut lebih dari sekadar kompetisi.
Mereka ingin mengenalkan pencak silat kepada generasi muda sekaligus mempertemukan para pesilat dari berbagai perguruan dalam suasana persaudaraan.
“Lebih pada pengenalan silat ke generasi muda, sekaligus silaturahmi. Kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan dari IPSI Kepri,” ujar Didi, didampingi Syahrul.
Para pesilat yang berhasil meraih prestasi dalam kejuaraan ini mendapatkan sertifikat, medali, piala, serta uang pembinaan.
Lima atlet juga dinobatkan sebagai pesilat terbaik, yakni Naurah Zahira Azalia, Julio Ramadhan Putra, Khayla Khairunnisa Pradita, Martin Siringo-Ringo, dan Wahyu Pranata.
Persaingan antarkontingen berlangsung ketat di berbagai kategori. Pada kategori usia dini tingkat sekolah, juara pertama diraih Sekolah Attaubah dengan koleksi tujuh emas, delapan perak, dan dua perunggu.
Posisi kedua ditempati SDN 004 Tanjungpinang Timur dengan lima emas, empat perak, dan dua perunggu. SD Muhammadiyah Sagulung berada di peringkat ketiga dengan empat emas, dua perak, dan dua perunggu.
Di kategori usia dini tingkat perguruan, Tapak Suci Sport Academy tampil sebagai juara pertama setelah mengumpulkan 20 emas, 11 perak, dan delapan perunggu.
PSH Batam berada di posisi kedua dengan 10 emas, delapan perak, dan 13 perunggu, sedangkan Tapak Suci Pimda 219 Karimun menempati posisi ketiga dengan 10 emas, lima perak, dan dua perunggu.
Pada kategori pra-remaja tingkat sekolah, Sekolah Islam Andalusia menjadi juara pertama dengan 10 emas, lima perak, dan dua perunggu.
Juara kedua diraih Sekolah Muhammadiyah Kabil dengan lima emas, tujuh perak, dan 12 perunggu. PPIT Imam Syafii berada di posisi ketiga dengan empat emas dan tujuh perak.
Sementara di kategori pra-remaja tingkat perguruan, Tapak Suci Sport Academy kembali mendominasi dengan 10 emas, 17 perak, dan tiga perunggu.
PSH Batam menempati posisi kedua dengan tujuh emas, delapan perak, dan delapan perunggu. Himssi Batam berada di posisi ketiga dengan enam emas, tujuh perak, dan 11 perunggu.
Pada kategori remaja pemasalan perguruan, Tapak Suci Pimda 219 Karimun keluar sebagai juara pertama dengan 10 emas dan tiga perunggu.
AFS Seni Keris berada di posisi kedua dengan tiga emas, dua perak, dan dua perunggu, disusul Himssi Batam dengan dua emas, empat perak, dan empat perunggu.
Untuk kategori remaja pemasalan sekolah, SMKN 1 Batam meraih juara pertama dengan 10 emas, dua perak, dan 10 perunggu. SMAN 3 Batam berada di posisi kedua dengan 10 emas, empat perak, dan tujuh perunggu. SMAN 1 Tanjungpinang menempati posisi ketiga dengan lima emas, tujuh perak, dan dua perunggu.
Pada kategori remaja prestasi tingkat sekolah, SMKN 1 Batam menjadi juara pertama dengan lima emas, satu perak, dan satu perunggu. SMAN 3 Batam berada di posisi kedua dengan tiga emas, dua perak, dan dua perunggu. Sedangkan SMKN 3 Tanjungpinang menempati posisi ketiga dengan dua emas dan dua perak.
Untuk kategori remaja prestasi tingkat perguruan, PSHT Riau menjadi juara pertama dengan empat emas dan satu perak. Gadepu Batam berada di posisi kedua dengan dua emas, dua perak, dan dua perunggu. Tapak Suci Pimda 219 Karimun menempati posisi ketiga dengan dua emas dan satu perak.
Pada kategori dewasa, Universitas Maritim Raja Ali Haji meraih posisi pertama dengan dua emas, empat perak, dan satu perunggu. Gadepu Batam berada di posisi kedua dengan dua emas, sedangkan SMAN 1 Batam menempati posisi ketiga dengan dua emas.
Dari seluruh hasil pertandingan, Tapak Suci Sport Academy keluar sebagai juara umum. Kontingen tersebut mengoleksi 31 medali emas, 23 perak, dan 11 perunggu.
Prestasi itu disambut haru oleh para pembina Tapak Suci Sport Academy. Wulan Ramadhani mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil dari latihan dan kerja keras para atlet.
“Kami sangat bersyukur dengan torehan prestasi yang diraih oleh anak didik kami. Alhamdulillah, anak-anak kami juga banyak diterima di sekolah favorit melalui jalur prestasi,” ujar Wulan.
Kejuaraan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa gelanggang pencak silat tidak hanya menjadi tempat untuk menentukan siapa yang terbaik.
Di tengah kerasnya pertandingan, para pesilat muda juga belajar tentang sportivitas, kedisiplinan, keberanian, dan persaudaraan—nilai-nilai yang diharapkan terus hidup bersama perkembangan pencak silat di Kepulauan Riau.








Komentar