Usia Bukan Penghalang, Opa Harim 79 Tahun Antusias Ikuti Lomba Memasak Nasi Goreng Kampung di Hari Ayah 2026

BATAM – Usia senja bukan alasan untuk berhenti bergerak dan berkarya. Semangat itulah yang ditunjukkan seorang pria di Kota Batam yang berusia 79 tahun bernama Pak Harim atau biasa dipanggil dengan sebutan Opa Harim.

Dia hadir ditemani sang istri tercinta bernama, Dewi Kadariah, saat mengikuti kegiatan lomba memasak nasi goreng kampung yang digelar Yayasan Yeho Tahu Kasih Batam di Aku Tahu Centre, Sei Panas dalam merayakan Hari Ayah 2026.

Bagi pasangan lansia ini, kegiatan tersebut bukan sekadar ajang adu keterampilan memasak, melainkan kesempatan untuk tetap aktif, bersosialisasi, sekaligus menikmati kebersamaan di masa tua.

Menariknya, sang opa mengaku baru pertama kali mencoba memasak nasi goreng secara langsung. Untuk mempersiapkan diri, ia bahkan memanfaatkan YouTube sebagai guru memasaknya.

Dari berbagai pilihan menu, ia sengaja memilih nasi goreng kampung. Bukan tanpa alasan, pilihan tersebut memiliki filosofi tersendiri.

Menurutnya, nasi goreng bukan hanya identik dengan kehidupan masyarakat perkotaan. Masyarakat kampung juga memiliki kekayaan kuliner yang tidak kalah menarik.

“Kita ini orang kampung, cuma kebetulan berdomisili di kota. Jadi, saya ingin mengingatkan bahwa di kampung juga ada nasi goreng. Jangan sampai orang menganggap nasi goreng hanya dikenal oleh orang kota,” ujar Opa Harim didampingi Istri, Dwi Kadardiah usia 75 tahun.

Namun, lebih dari soal menu dan hasil masakan, keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk partisipasi untuk memeriahkan aktivitas perkumpulan Taman Opa Oma yang digagas oleh Yayasan Yeho Tahu Kasih Batam pimpinan Ibu Suhaidah.

Ia mengaku sangat menikmati berbagai kegiatan yang melibatkan para lansia. Terlebih, aktivitas seperti ini membuat dirinya tetap bersemangat menjalani hari-hari di usia senja.

“Saya senang ada kegiatan seperti ini. Jadi tidak ada beban memikirkan anak, cucu, cicit, utang, cicilan rumah atau pinjaman kendaraan. Kita bisa santai dan menikmati kegiatan,” ungkapnya.

Di balik semangatnya, pria tersebut juga memiliki riwayat kesehatan yang tidak ringan. Ia mengaku telah menggunakan alat pacu jantung (pacemaker) sejak 2001.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat untuk tetap aktif sesuai kemampuannya.

Selain mengikuti kegiatan komunitas Opa-Oma, ia bersama sang istri juga rutin mengikuti senam tai chi dan sekolah lansia.

Baginya, menjaga pikiran agar tidak terbebani serta tetap melakukan aktivitas positif menjadi salah satu kunci menikmati masa tua.

Ia bahkan terinspirasi dari mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, yang tetap aktif di usia lanjut.

“Menurut saya, bukan usia yang menjadi persoalan. Kalau pikiran terlalu banyak dibebani, fisik juga bisa terpengaruh. Tetapi kalau pikiran diringankan, kita santai dan menikmati hidup, semangat itu akan selalu ada,” katanya.

Bagi pasangan ini, lomba memasak tersebut menjadi pengalaman berharga. Bukan semata-mata mengejar kemenangan, melainkan membuktikan bahwa usia tidak seharusnya membatasi seseorang untuk terus belajar, mencoba hal baru, dan menikmati kebersamaan.

Di usia 79 tahun, mencoba menggoreng nasi untuk pertama kalinya mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik sepiring nasi goreng kampung itu tersimpan pesan yang jauh lebih besar: semangat hidup tidak mengenal batas usia.

Komentar