Bukan Sekadar Lomba, di Hari Kemerdekaan Itu Mereka Menemukan Kembali Arti Kebersamaan

BATAM — Senin, 17 Agustus 2026, halaman kantor DPC PDI Perjuangan Kota Batam tak sekadar dipenuhi suara sorak-sorai. Di tempat itu, kemerdekaan dirayakan dengan cara yang sederhana, tetapi terasa dekat dengan denyut kehidupan rakyat.

Tidak ada panggung megah. Tidak pula perlombaan yang membutuhkan peralatan mahal.

Yang ada adalah tawa, keringat, teriakan penyemangat dan sesekali gelak pecah ketika peserta gagal menyelesaikan tantangan.

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Batam menggelar aneka perlombaan rakyat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun 2026.

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan itu diikuti dengan penuh antusias oleh jajaran kader dan pengurus PDI Perjuangan, mulai dari tingkat Anak Ranting, Ranting, PAC, DPC hingga DPD PDI Perjuangan Provinsi Kepulauan Riau.

Bagi mereka, perayaan kemerdekaan bukan semata-mata tentang siapa yang menjadi juara.

Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi justru menjadi inti dari kegiatan tersebut: bertemu, tertawa bersama dan kembali merasakan bahwa organisasi politik juga memiliki ruang untuk membangun persaudaraan.

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Batam, Ernawati, mengatakan perlombaan rakyat sengaja dipilih karena dapat diikuti oleh seluruh kader tanpa membedakan tingkatan dalam struktur partai.

Tahun ini, delapan perlombaan disiapkan.

Mulai dari lomba estafet sarung, joged balon, estafet karet gelang menggunakan pipet, kait keranjang di kepala, komunikata, makan kerupuk, memasukkan paku ke dalam botol hingga rebutan kursi.

Nama-namanya terdengar sederhana.

Namun justru dari permainan sederhana itulah suasana kemerdekaan terasa begitu hidup.

Seorang kader yang sehari-hari mungkin terbiasa duduk dalam rapat serius, pada hari itu harus berjoget dengan balon. Yang lain harus berkonsentrasi memindahkan karet gelang hanya dengan bantuan pipet. Ada pula yang harus menahan tawa saat berusaha menyampaikan pesan dalam permainan komunikata.

Semua larut.

Tidak ada sekat antara pengurus dan kader. Tidak ada jarak antara mereka yang berada di tingkat ranting dengan mereka yang duduk di jajaran pimpinan.

Untuk beberapa saat, mereka bukan sedang berbicara mengenai agenda politik, tetapi tentang bagaimana sebuah balon tidak jatuh, bagaimana karet gelang bisa berpindah, atau bagaimana paku dapat masuk tepat ke dalam botol.

Di situlah kemerdekaan menemukan bentuknya yang lain.

Bukan hanya upacara dan penghormatan terhadap bendera, tetapi juga kesempatan untuk berkumpul sebagai sesama anak bangsa.

Ernawati menyampaikan, seluruh peserta diwajibkan mengikuti perlombaan sesuai jadwal. Setiap permainan memiliki aturan dan area yang telah ditentukan.

 

Namun ada satu hal yang menjadi pesan penting dalam seluruh rangkaian kegiatan tersebut: sportivitas.

Menang tentu menyenangkan.

Tetapi kebersamaan jauh lebih penting.

Karena itu, setiap peserta diminta menjunjung tinggi sportivitas, kekompakan dan semangat kebersamaan. Pemenang ditentukan berdasarkan waktu tercepat maupun hasil terbaik sesuai ketentuan masing-masing perlombaan.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, kegiatan semacam itu mungkin terlihat kecil.

Namun dari hal-hal kecil itulah hubungan antarmanusia sering kali kembali dirajut.

Sebab kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang kemampuan untuk hidup bersama, saling menghargai, bergembira dan berdiri sebagai satu kesatuan meski memiliki peran yang berbeda.

Di halaman DPC PDI Perjuangan Kota Batam itu, pesan tersebut seolah hadir tanpa perlu banyak kata.

Ketika sorak-sorai terdengar, ketika tawa pecah dan ketika para peserta saling menyemangati, ada satu hal yang menjadi pemenang sesungguhnya.

Bukan mereka yang paling cepat.

Bukan pula mereka yang berhasil merebut kursi terakhir.

Melainkan kebersamaan.

Sebab setelah perlombaan selesai dan hadiah dibagikan, yang kemungkinan paling lama tinggal bukanlah angka di papan skor.

Tetapi kenangan.

Kenangan tentang sebuah Hari Kemerdekaan ketika mereka pernah berdiri bersama, tertawa bersama dan merayakan Indonesia dengan cara yang paling sederhana: menjadi saudara dalam satu kebersamaan.

Komentar