Dari Seni hingga Tradisi, Sembang Budaya Menyatukan Masyarakat Batam

BATAM – Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam, kembali menggelar Sembang Budaya bertajuk Merajut Ukhuwah, Merawat Harmoni dalam Keberagaman dengan Merangkai Seni Budaya Melayu di Lapangan Bazar Vitka, Tiban, Kecamatan Sekupang.

Kegiatan yang melibatkan LAM Kecamatan Sekupang, Belakang Padang, Batu Ampar, Lubuk Baja, Batu Aji, dan Sagulung ini berlangsung 8-10 Oktober 2026 dan menjadi wadah silaturahmi bagi tokoh adat, masyarakat, serta berbagai elemen budaya.

Selain mempererat persaudaraan, kegiatan tersebut bertujuan menjaga keharmonisan masyarakat Batam yang hidup dalam keberagaman.

Beragam pertunjukan seni budaya Melayu turut memeriahkan kegiatan tersebut. Panitia juga menggelar sejumlah perlombaan tradisional serta edukasi mengenai prosesi adat tepung tawar sebagai upaya mengenalkan dan melestarikan warisan budaya Melayu kepada masyarakat.

Ketua LAM Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Kota Batam, YM H. Raja Muhammad Amin, menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan membangun komunikasi yang baik antarlembaga adat, organisasi kemasyarakatan (ormas), serta paguyuban di Kota Batam.

Menurutnya, keberagaman masyarakat Batam harus menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan sosial yang aman, damai, dan sejahtera.

“Batam ini bukan hanya kampung saya atau kampung kami, tetapi Batam adalah kampung kita bersama,” ujarnya.

Raja Amin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Batam sebagai Bandar Dunia Madani dengan mengedepankan persaudaraan, saling menghormati, dan menjaga kerukunan.

Ia juga menyampaikan rencana pembentukan Forum Komunikasi Lembaga Adat Melayu dan Paguyuban se-Kota Batam pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Forum tersebut diharapkan menjadi ruang komunikasi dan koordinasi antarlembaga adat, ormas, serta paguyuban untuk memperkuat hubungan antar kelompok masyarakat.

Menurut Raja Amin, pembentukan forum komunikasi tersebut merupakan amanat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2026. Kehadiran forum ini diharapkan dapat mempererat komunikasi sekaligus mencegah potensi persoalan sosial di tengah masyarakat.

“Dengan komunikasi yang intensif, kita berharap hal-hal yang tidak kita inginkan dapat dihindari bersama-sama,” katanya.

Ia juga mengajak pengurus LAM di tingkat kota, kecamatan, hingga kelurahan untuk terus menjalankan amanah dalam memelihara adat dan marwah Melayu.

Pelestarian budaya, menurutnya, bukan hanya menjadi tanggung jawab tokoh adat, melainkan juga seluruh masyarakat, terutama generasi muda.

Raja Amin turut mengusulkan agar pembacaan Albarzanji dan Asrakal dilombakan sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi Melayu.

Ia menilai kedua tradisi tersebut perlu terus dilestarikan agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kita sudah berkomitmen bersama Kemenag Kota Batam dan MUI Kota Batam untuk mengusulkan agar pembacaan Albarzanji dan Asrakal bisa dilombakan pada ajang MTQ dan STQ nantinya,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Sembang Budaya LAM Enam Kecamatan, Dato’ Tukijan Sarpan, yang juga Ketua LAM Kecamatan Sekupang, diwakili Dato’ Yuanda selaku Ketua LAM Kecamatan Sagulung, menyampaikan bahwa kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai 8 hingga 10 Oktober 2026.

Dalam laporan panitia, sejumlah perlombaan tradisional digelar untuk memeriahkan acara, di antaranya lomba bersanding, kompang, tari persembahan, dan joget 60-an.

Selain itu, masyarakat juga dapat mengikuti edukasi mengenai tata cara prosesi tepung tawar dan menyaksikan berbagai pertunjukan seni budaya Melayu.

Panitia menyampaikan bahwa Sembang Budaya tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga bagian dari upaya memperkenalkan adat istiadat dan tradisi Melayu kepada masyarakat luas.

Budaya Melayu mengajarkan nilai-nilai luhur, seperti sopan santun, gotong royong, musyawarah, saling menghormati, menjunjung marwah, dan menjaga hubungan baik antarsesama.

Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk terus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama di Batam yang dihuni masyarakat dari beragam suku, budaya, dan latar belakang.

“Keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan yang dapat memperkaya kehidupan sosial dan budaya kita,” ujarnya.

Melestarikan Budaya untuk Generasi Muda

Sementara itu, Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, berharap, melalui Sembang Budaya, masyarakat diharapkan semakin mengenal dan mencintai seni budaya Melayu sekaligus memahami pentingnya menjaga keharmonisan dalam kehidupan bersama.

Keterlibatan enam kecamatan dalam kegiatan ini juga mencerminkan kolaborasi antarlembaga adat untuk memperkuat silaturahmi dan menjaga keberlangsungan tradisi Melayu di Batam.

“Kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai ruang pertemuan budaya, sarana bagi generasi muda untuk mempelajari adat istiadat, serta upaya memperkuat identitas budaya lokal tanpa mengesampingkan keberagaman,” katanya.

Semangat tersebut, lanjut Ardi, sejalan dengan pesan yang diusung dalam Sembang Budaya, yakni menjadikan Batam sebagai kampung bersama yang aman, damai, dan sejahtera.

“Seni dan budaya Melayu diharapkan terus menjadi salah satu jembatan untuk merawat persatuan di tengah masyarakat,” katanya.

Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam, KH Lukman Rifai; Camat Sekupang; Camat Lubuk Baja; Sekretaris Camat Lubuk Baja; perwakilan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam; serta sejumlah tokoh adat dan masyarakat.

Hadir pula perwakilan organisasi kemasyarakatan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), termasuk organisasi kemasyarakatan Melayu seperti Perpat, Gagak Hitam, dan LMB, serta perwakilan berbagai paguyuban di Kota Batam. ***

Komentar