BATAM – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan kinerja impresif pada triwulan I tahun 2026. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, Kepri mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7,04 persen secara tahunan (year on year/yoy), melampaui rata-rata nasional yang sebesar 5,61 persen dan menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatera.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau menyebutkan, pertumbuhan ekonomi daerah masih ditopang oleh sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, serta perdagangan. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh meningkatnya investasi, kinerja ekspor netto, serta konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.
“Kepri mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian,” demikian disampaikan dalam rilis perekonomian terbaru BI Kepri.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang positif, stabilitas sistem keuangan di Kepri juga tetap terjaga. Hingga April 2026, penyaluran kredit perbankan mencapai Rp105,42 triliun atau tumbuh 23,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp107,08 triliun atau meningkat 15,54 persen.
Fungsi intermediasi perbankan juga tetap kuat dengan tingkat risiko kredit yang rendah. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang berada pada level 1,14 persen. Sementara itu, kredit kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tumbuh 8,37 persen dengan NPL yang tetap terjaga di angka 2,62 persen.
Di sisi lain, inflasi Kepri pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,38 persen secara bulanan (month to month/mtm) atau 1,25 persen secara kumulatif sejak awal tahun. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,92 persen, meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 3,06 persen.
Bank Indonesia menilai perkembangan inflasi tersebut perlu terus diwaspadai, terutama terkait fluktuasi harga pangan, biaya transportasi, serta potensi dampak kenaikan harga energi. Untuk menjaga stabilitas harga, BI Kepri terus memperkuat sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Berbagai langkah pengendalian inflasi telah dilakukan sepanjang Juni 2026, di antaranya pelaksanaan High Level Meeting TPID Kota Batam, edukasi masyarakat terkait belanja bijak, peluncuran Gerakan Menanam Cabai Kepri (GEMARI), hingga Program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA) guna memperkuat ketahanan pangan daerah.
Memasuki triwulan II 2026, BI memperkirakan ekonomi Kepri tetap tumbuh kuat meskipun mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini dipengaruhi normalisasi aktivitas pertambangan setelah mencatat kinerja tinggi pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, sektor industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, investasi, dan konsumsi rumah tangga diyakini masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Secara keseluruhan, perekonomian Kepri sepanjang tahun 2026 diproyeksikan tumbuh pada kisaran 6,0 hingga 6,8 persen. Namun demikian, sejumlah risiko masih perlu diantisipasi, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, gangguan rantai perdagangan internasional, perubahan kebijakan negara mitra dagang, hingga volatilitas harga energi dan komoditas dunia.
Untuk memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang, BI Kepri juga terus mendorong lahirnya sumber-sumber pertumbuhan baru melalui pengembangan sektor pariwisata dan peningkatan nilai tambah UMKM. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan produk unggulan daerah, promosi kuliner dan destinasi wisata, serta perluasan akses pembiayaan dan digitalisasi usaha.
Fokus pengembangan UMKM juga diarahkan ke wilayah kepulauan dan hinterland seperti Kabupaten Lingga, Natuna, dan Kepulauan Anambas. Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi komoditas unggulan, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, memperluas akses pasar, serta mendorong digitalisasi ekonomi secara lebih inklusif.
Dalam mendukung transformasi digital, BI Kepri juga akan menggelar sejumlah program strategis, di antaranya QRIS Jelajah Indonesia (QJI) 2026 bertema “Jelajah Kuliner Indonesia”, Creative and Innovative Riau Island Carnival (CERNIVAL), serta Pekan QRIS Nasional (PQN) dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Melalui berbagai program tersebut, BI Kepri berharap digitalisasi sistem pembayaran dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat daya saing UMKM dan sektor pariwisata daerah.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, bernilai tambah tinggi, serta semakin inklusif melalui penguatan sinergi bersama pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, dan masyarakat.














Komentar