BATAM – Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) terus mendorong penguatan pencak silat sebagai warisan budaya sekaligus olahraga prestasi. Salah satu program prioritas yang akan dijalankan adalah memasukkan pencak silat ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah sebagai upaya membentuk karakter generasi muda sekaligus memperluas pembinaan atlet.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum PB IPSI, Prof. Dr. Ir. Dwi Soetjipto, M.M., saat menghadiri Musyawarah Provinsi (Musprov) VI IPSI Kepulauan Riau di Batam, Minggu (26/7/2026).
Menurut Dwi Soetjipto, program tersebut merupakan arahan langsung Ketua Umum PB IPSI, Sugiono, setelah terpilih memimpin organisasi pencak silat nasional.
“Program pertama adalah memasyarakatkan pencak silat, khususnya di dalam negeri. Salah satunya dengan mendorong pencak silat masuk ke sekolah-sekolah sehingga menjadi bagian dari pendidikan untuk membentuk karakter dan budaya Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendidikan pencak silat sejak usia sekolah diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai disiplin, sportivitas, dan budaya bangsa yang akan terus melekat ketika para siswa tumbuh dewasa dan berkarier di berbagai bidang.
Selain fokus di dalam negeri, PB IPSI juga menargetkan pencak silat semakin dikenal dunia sebagai bagian dari strategi menuju Olimpiade.
Menurutnya, pengakuan internasional menjadi syarat penting agar pencak silat mendapat dukungan untuk dipertandingkan pada ajang olahraga terbesar dunia tersebut.
“Kalau negara-negara lain belum mengenal atau memiliki pencak silat, tentu mereka akan sulit mendukung pencak silat masuk Olimpiade. Karena itu kami terus melakukan sosialisasi dan mengirim pelatih ke berbagai negara,” katanya.
Dwi menyebutkan, pelatih-pelatih Indonesia telah dikirim ke berbagai kawasan, mulai dari Amerika, Eropa Timur, Uzbekistan hingga sejumlah negara di Afrika. Langkah tersebut juga dilakukan menjelang penyelenggaraan kejuaraan junior di Afrika sebagai bagian dari upaya memperluas penyebaran pencak silat di dunia.
Kepri Dinilai Punya Potensi Besar
Dalam kesempatan itu, Dwi menilai Kepulauan Riau memiliki peluang besar melahirkan atlet pencak silat berprestasi karena daerah tersebut memiliki akar budaya silat Melayu yang kuat.
Menurutnya, potensi tersebut harus dihidupkan kembali melalui pembinaan yang berkelanjutan, sosialisasi kepada masyarakat, serta penyelenggaraan kompetisi secara rutin.
“Silat Melayu merupakan bagian dari budaya masyarakat Kepri. Ini modal besar yang harus dibangkitkan kembali melalui pembinaan sejak usia dini dan memperbanyak pertandingan secara berjenjang, mulai dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan geografis Kepulauan Riau yang terdiri atas wilayah kepulauan. Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi dapat menjadi solusi untuk memperkuat komunikasi dan pembinaan atlet di daerah-daerah yang berjauhan, termasuk Natuna.
Dwi berharap Musprov VI IPSI Kepri menghasilkan kepengurusan yang solid serta program kerja yang mampu menyatukan seluruh potensi pencak silat di Kepulauan Riau.
“Kami berharap Musprov berjalan lancar, ada kesinambungan kepengurusan, dan lahir program-program yang mengintegrasikan seluruh kekuatan IPSI Kepri. Semangat kebersamaan harus menjadi fondasi utama,” tegasnya.
Musprov Tentukan Kepengurusan Baru
Sementara itu, Ketua Pengprov IPSI Kepri Periode 2022-2026, Sugianto, S.H. mengatakan Musyawarah Provinsi merupakan forum tertinggi organisasi di tingkat provinsi yang digelar setiap empat tahun sekali.
Selain memilih Ketua Pengprov IPSI Kepri periode 2026-2030, Musprov juga akan menyusun program strategis organisasi untuk empat tahun mendatang.
“Musprov ini menjadi momentum menentukan arah pembinaan pencak silat di Kepulauan Riau, baik dari sisi organisasi maupun peningkatan prestasi atlet,” katanya.
Sugianto memastikan IPSI Kepri juga telah mempersiapkan diri menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepri yang akan digelar di Tanjungpinang pada November mendatang. Bahkan, pihaknya telah melakukan survei lokasi pertandingan pencak silat.
Menurutnya, keterbatasan anggaran tidak menjadi alasan bagi insan pencak silat untuk berhenti berprestasi.
“Kalau ada anggaran Alhamdulillah, kalau tidak ada pun tetap kami laksanakan. Kami dididik sebagai pendekar, tidak pernah mengeluh. Yang penting tugas harus tetap dijalankan,” ujarnya.
Terkait pemilihan ketua, Sugianto menyebut hingga saat ini proses pencalonan masih berlangsung sesuai mekanisme organisasi. Namun, berdasarkan perkembangan yang ada, diperkirakan akan muncul dua kandidat, yakni dirinya dan Umaydi.
Sugianto mengaku masih memiliki target yang belum tercapai, yakni mempersembahkan medali pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Ia mengungkapkan, IPSI Kepri sebenarnya telah mencatat sejumlah prestasi membanggakan, di antaranya meraih dua medali emas pada Kejuaraan Nasional di Solo tahun 2023, mengirim atlet ke pemusatan latihan nasional (Pelatnas), hingga meraih medali perak pada kejuaraan internasional di Dubai, Uni Emirat Arab. Selain itu, Kepri juga berhasil menempati peringkat keenam nasional pada ajang PPLP tahun 2024.
Ke depan, menurutnya, pekerjaan rumah terbesar IPSI Kepri adalah memperkuat pembinaan atlet sejak usia dini agar mampu melahirkan pesilat berprestasi yang dapat bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Ia juga berharap pencak silat dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari promosi pariwisata daerah. Menurutnya, berbagai kejuaraan yang digelar di Batam selama ini selalu diikuti peserta dari Singapura dan Malaysia sehingga memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata di Kepulauan Riau.
“Silat adalah budaya asli Indonesia. Kalau event-event internasional terus digelar di Kepri, tentu akan mendukung kunjungan wisatawan sekaligus memperkenalkan budaya bangsa kepada dunia,” pungkasnya.














Komentar