BATAM – Anggota DPD RI Dapil Kepulauan Riau, Ir. H. Ria Saptarika, M.Eng melaksanakan kegiatan reses bersama dengan beberapa instansi terkait yang ada di kota Batam. Reses kali ini dilaksanakan di Kantor DPD RI perwakilan provinsi Kepulauan Riau di Batam Center, Kamis (19/02/2026) siang.
Hadir dalam kegiatan itu, Anggota DPD RI Dapil Kepulauan Riau, Ir. H. Ria Saptarika, M.Eng bersama Pelaksana Harian KSOP Khusus Batam, Hendra Sucipto dan Direktur Pengelola Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni.
Hasil dari reses yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa Batam sedang memasuki fase baru: dari sekadar titik transit menjadi simpul logistik dan konektivitas maritim berteknologi tinggi di Selat Malaka.
Menurut Ria, Selat Malaka bukan sekadar jalur pelayaran internasional. Ia adalah urat nadi perdagangan global. Posisi Batam di dalamnya adalah aset strategis nasional.
Kemudian, selama puluhan tahun, Batam terjebak dalam stigma sebagai “pintu masuk” atau titik transit belaka bagi mereka yang hendak menyeberang ke Singapura. Namun, lanskap maritim Batam kini sedang menanggalkan kulit lamanya.
“Kota ini bertransformasi menjadi teater logistik berteknologi tinggi di mana data mengalir secepat kapal-kapal feri yang membelah Selat Malaka,” ucap Ria Saptarika.
Lanjutnya, bagi pengamat bisnis dan pelaku industri, Batam bukan lagi sekadar pelabuhan singgah; ia adalah pusat dinamika ekonomi regional yang semakin cerdas dan terkoneksi.
Dari pergeseran perilaku belanja wisatawan Malaysia hingga pengawasan pelabuhan yang kini terpantau langsung dari Jakarta.
Berikut adalah lima (5) fenomena yang mendefinisikan wajah baru Batam tahun ini:
1. Kejutan dari Johor: Magnet Rempah dan Fenomena “Koper Kosong”
Ada anomali menarik dalam data kunjungan mancanegara ke Batam belakangan ini. Sementara pertumbuhan wisatawan asal Singapura cenderung stabil, gelombang kedatangan dari Johor justru menunjukkan angka yang eksplosif.
Berdasarkan data terbaru, arus penumpang dari Johor melonjak hingga 27%, jauh melampaui pertumbuhan wisatawan Singapura yang hanya berada di angka 5%.
Dengan nilai tukar Ringgit di kisaran Rp4.300, daya beli warga Malaysia meningkat drastis di pasar lokal. Namun, ini bukan sekadar soal belanja barang mewah di mal.
Hendra Sucipto menangkap tren “Koper Kosong”: wisatawan Johor datang tanpa bawaan, lalu pulang dengan koper penuh berisi sembako dan bumbu masak. Mengapa? Karena status historis Indonesia sebagai “negara penghasil rempah” masih menjadi magnet kuat.
“Kualitas bumbu masakan khas Indonesia dianggap jauh lebih autentik dan berkualitas dibandingkan produk yang mereka temukan di Malaysia. Bagi warga Johor, Batam adalah dapur besar dengan harga yang jauh lebih kompetitif,” ucap Hendra Sucipto.
2. Integrasi Monitoring Nasiona di Pelabuhan: Monitoring Real-Time Hingga Jakarta
Batam kini tidak lagi mengelola datanya dalam isolasi. Transformasi digital melalui sistem
Inaportnet telah menyatukan ekosistem informasi kepelabuhanan antara BP Batam dan KSOP Khusus Batam. Tujuannya tegas: transparansi total melalui kebijakan “Satu Data”.
Wujud nyata dari integrasi ini adalah koneksi CCTV di berbagai terminal penumpang yang kini terhubung langsung dengan Pusat Trans (Pusrans) Kementerian Perhubungan di Jakarta. Artinya, setiap kepadatan, keterlambatan, hingga kendala operasional di pelabuhan Batam dapat dipantau detik demi detik oleh regulator di ibu kota.
Langkah ini merupakan fondasi bagi rencana ambisius pembangunan Command Center 2027, sebuah pusat komando terpadu yang akan
mengintegrasikan pengawasan pelabuhan penumpang, barang, hingga terminal khusus (tersus) dalam satu layar kendali.
3. De-bottlenecking FTZ BBK: Logistik Tanpa Sekat
Menurut Benny Syahroni, salah satu hambatan terbesar di Kepulauan Riau selama ini adalah sekat administratif antar-kawasan bebas.
Selama bertahun-tahun, pengiriman barang dari Batam ke Bintan atau Karimun diperlakukan secara tidak selaras dengan semangat integrasi FTZ sebagai pengiriman ke “daerah pabean lainnya” (dianggap seperti wilayah luar negeri untuk urusan pajak).
Hal inilah yang memicu kelangkaan sembako dan tingginya biaya logistik di wilayah tetangga.
Kini, melalui semangat integrasi administratif sesama wilayah Free Trade Zone (FTZ), hambatan tersebut mulai dipangkas.
Implementasi PP No. 47 tidak hanya memperluas wilayah FTZ Batam menjadi 22 pulau plus wilayah laut, tetapi diharapkan juga menyinkronkan regulasi antar-wilayah BBK (Batam-Bintan-Karimun).
Salah satu terobosan kuncinya menurut Ria Saptarika adalah:
* Pengoperasian TPS Punggur: Tempat Penimbunan Sementara yang kini dilengkapi teknologi Xray dan sistem penyegelan (leges) terpusat.
* Efisiensi Pemeriksaan: Dengan adanya TPS ini, pemeriksaan Bea Cukai dilakukan tuntas di satu titik sebelum barang naik ke kapal, menghilangkan drama pemeriksaan berulang di sepanjang jalan raya yang selama ini menghambat mobilitas logistik.
4. Strategi “Plan B” di Batam Center: Membedah Isu B2B
Pelabuhan Batam Center sering kali menghadapi tantangan kepadatan ekstrem atau produdit. Saat kapasitas terminal sudah mencapai ambang batas, otoritas menyiapkan skenario pengalihan ke terminal alternatif seperti Sekupang atau Harbour Bay.
Secara teknis, pengalihan ini dimungkinkan karena operator kapal yang melayani Batam Center, seperti Batam Fast dan Sindo, juga beroperasi di terminal lain. Namun, sebagai analis, kita harus melihat bahwa solusinya tidak sesederhana memindahkan kapal. Tantangan utamanya terletak pada aspek Business-to-Business (B2B):
* Persaingan Operator Terminal: Adanya gesekan kepentingan komersial antara pengelola terminal yang berbeda.
* Logistik Penumpang: Kebutuhan akan penyediaan feeder (angkutan pengumpan) yang efisien untuk memastikan penumpang yang “terbuang” ke Sekupang tetap bisa mencapai pusat kota tanpa biaya tambahan yang membebani.
5. Mudik dengan Prinsip “Zero Compromise for Safety”
Menghadapi musim mudik, Batam menerapkan standar keamanan yang tidak mengenal
kompromi. Fokusnya adalah mitigasi risiko di tengah tantangan cuaca buruk dan tingginya volume penumpang.
Persiapan teknis melibatkan pemeriksaan kelaiklautan (ram check) terhadap sekitar
80 kapal, termasuk tipe feri cepat dan kapal Roro (Roll-on/Roll-off).
Beberapa strategi kontingensi KSOP Khusus Batam yang diterapkan antara lain:
* Piket Strategis: Pejabat eselon ditugaskan melakukan piket kontrol langsung di lapangan selama masa libur.
* Sinergi Kapal Negara: Armada dari Pangkalan Tanjung Uban disiagakan sebagai cadangan jika
terjadi lonjakan luar biasa. Penting untuk dicatat bahwa skenario “tiket gratis” (seperti rute JambiBatam tahun lalu) adalah bentuk kerjasama inter-regional yang bersifat kondisional atas permintaan pemerintah daerah, bukan layanan rutin tahunan.
* Interkoneksi BMKG: Otoritas pelabuhan memegang kendali penuh untuk menunda
keberangkatan secara instan jika data BMKG menunjukkan cuaca buruk di jalur pelayaran.
Menatap Masa Depan Maritim Batam
Transformasi yang terjadi di Batam saat ini menunjukkan arah yang jelas: menuju kawasan
maritim yang cerdas, aman, dan sangat kompetitif. Hal tersebut harus sesuai dengan Implementasi PP No. 47 tentang perluasan FTZ Batam
Dengan perluasan wilayah FTZ yang kini
mencakup 22 pulau dan pengawasan digital yang semakin ketat, Batam sedang memperkuat
posisinya sebagai pemain kunci dalam perdagangan Selat Malaka..
Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan merekomendasikan untuk Sidang Paripurna
Agenda RDP dengan Kemenhub, Kemenkeu (DJBC), Kemenko Evaluasi implementasi PP 47
Harmonisasi kewenangan.
Perubahan ini bukan sekadar soal perbaikan infrastruktur, melainkan tentang bagaimana efisiensi birokrasi dan teknologi dapat menciptakan ekosistem bisnis yang lebih sehat
Pertanyaannya bagi Anda: dengan Batam yang semakin terkoneksi dan transparan, peluang bisnis baru apa yang siap Anda tangkap di wilayah Kepulauan Riau tahun ini.
“Saya menegaskan bahwa hasil reses ini akan dibawa dalam Sidang Paripurna DPD RI serta dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan (DJBC), dan Kementerian Koordinator Perekonomian guna memastikan harmonisasi kebijakan dan percepatan integrasi kawasan FTZ BBK,” ucap Ria Saptarika mengakhiri.










Komentar