Tepung Tawar, Restu yang Mengalir dalam Prosesi Khitanan Melayu Muhammad Farras Alfarezel

BATAM – Di tengah riuh tawa para tamu dan aroma hidangan yang tersaji di VIP B Restoran Golden Prawn Batam, Jumat, 22 Mei 2026, seorang anak laki-laki duduk tenang di pelaminan sederhana.

Ia mengenakan baju Teluk Belanga berwarna kuning keemasan, warna yang dalam budaya Melayu melambangkan kemuliaan dan kebesaran.

Sesekali wajahnya meringis menahan rasa nyeri yang masih tersisa. Namun di balik rasa sakit itu, senyum tipis tetap menghiasi wajah Muhammad Farras Alfarezel setiap kali keluarga dan kerabat datang menyalami serta mengucapkan selamat kepadanya.

Bagi keluarga Melayu, khitanan adalah salah satu tonggak penting dalam perjalanan seorang anak laki-laki. Sebuah fase yang menandai langkah awal menuju kedewasaan, yang disambut dengan rasa syukur, doa, dan harapan dari seluruh keluarga.

Di antara rangkaian acara yang berlangsung, ada satu prosesi yang selalu menjadi inti dari makna perayaan tersebut: Tepung Tawar.

Saat prosesi itu dimulai, suasana yang semula ramai perlahan berubah hening. Percakapan para tamu mereda. Mata-mata tertuju kepada sang anak yang duduk dengan tenang di sebuah kursi yang dijadikan singgasananya saat itu.

Satu per satu tamu undangan yang hadir yang dikomandoi oleh orang tua Farras yakni Faisal (Ayah) dan Dhita Wulandari (Bunda), Chairani Siregar (Nenek) Yanti Ariani (Ibuk), Maya dan Iswan (Uwak), Ketua Dewan Penasehat PWI Kepri, Marganas Nainggolan, Ketua Pengadilan Negeri Batam, Tiwik, Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam YM. Raja Haji Muhamad AminKetua PWI Batam, Muhammad Khafi Anshary, Kasat Intelkam Polresta Barelang, Kompol Yudiarta Rustam serta undangan lainnya melangkah maju.

Di tangan mereka tergenggam daun perenjis yang dicelupkan ke dalam air tepung tawar. Dengan gerakan perlahan dan penuh penghormatan, air itu dipercikkan ke telapak tangan dan pundak Farras. Beras kunyit kemudian ditaburkan dengan lembut, disertai lantunan doa yang terucap pelan namun sarat makna.

Bagi masyarakat Melayu, setiap unsur dalam Tepung Tawar bukanlah sekadar pelengkap adat.

Beras kunyit melambangkan kemakmuran, kemuliaan, dan harapan akan kehidupan yang baik.

Beras putih menjadi simbol kesucian hati dan kebersihan niat. Air tepung tawar dimaknai sebagai penyejuk jiwa, sementara daun perenjis melambangkan persatuan, kebersamaan, dan eratnya ikatan kekeluargaan.

Seluruh rangkaian itu menjadi bahasa simbolik yang diwariskan turun-temurun. Sebuah cara masyarakat Melayu menyampaikan doa tanpa harus banyak berkata-kata.

Tradisi Tepung Tawar dalam khitanan pada hakikatnya merupakan ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan kepada Allah SWT.

Melalui prosesi ini, keluarga memohon agar sang anak diberikan kesehatan, dijauhkan dari mara bahaya, serta tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.

Nuansa religius semakin terasa ketika Grup Hadroh Bukit Airis dari Perumahan Bukit Airis, Batam Centre, melantunkan syair-syair pujian dan shalawat. Irama rebana yang berpadu dengan lantunan doa menghadirkan suasana yang syahdu.

Bagi mereka yang hadir, prosesi itu bukan hanya sebuah adat. Ia adalah peristiwa batin.

Di balik setiap percikan air tepung tawar, tersimpan kasih sayang yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Bagi seorang ayah, prosesi itu adalah ungkapan syukur karena putranya telah melewati salah satu fase penting dalam hidup. Sebuah momen yang diam-diam mengingatkannya bahwa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia menggendong anak kecil yang belajar mengucapkan kata pertama. Kini, anak itu mulai melangkah menuju masa remaja.

Bagi seorang ibu, setiap percikan air yang jatuh ke tangan sang anak adalah doa yang tidak pernah putus. Doa agar anak yang pernah ia kandung selama sembilan bulan itu selalu berada dalam lindungan Allah, tumbuh sehat, menjadi pribadi yang baik, dan kelak menemukan jalan hidup yang penuh keberkahan.

Sementara bagi datuk dan nenek, Tepung Tawar adalah jembatan kenangan. Mereka seakan melihat kembali perjalanan panjang keluarga yang telah mereka bangun selama puluhan tahun. Tradisi yang dahulu mereka terima dari orang tua mereka, kini diwariskan kepada cucu-cucu yang akan melanjutkan kisah keluarga di masa depan.

Tidak ada pidato panjang.

Tidak ada kalimat-kalimat megah.

Namun dalam diam, setiap tangan yang memercikkan air tepung tawar seolah menitipkan harapan yang sama.

“Jadilah anak yang saleh.”

“Semoga selalu sehat dan dilimpahi rezeki.”

“Jadilah kebanggaan orang tua dan keluarga.”

Harapan-harapan itu mengalir bersama tetes air yang jatuh perlahan.

Tak sedikit mata yang tampak berkaca-kaca saat menyaksikan prosesi tersebut. Sebab mereka sadar, yang sedang dirayakan bukan hanya khitanan seorang anak, melainkan perjalanan waktu itu sendiri.

Sebuah perjalanan yang membawa seorang bayi mungil tumbuh menjadi anak yang perlahan belajar memahami tanggung jawab kehidupannya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Tepung Tawar tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya Melayu. Bukan karena kemewahan acaranya, melainkan karena nilai-nilai yang dikandungnya.

Tradisi ini mengajarkan bahwa setiap langkah penting dalam kehidupan layak diawali dengan doa. Bahwa kebersamaan keluarga adalah kekuatan. Dan bahwa restu orang tua merupakan bekal yang tak ternilai harganya.

 

Mungkin bagi sebagian orang, Tepung Tawar hanyalah percikan air dan taburan beras kunyit.

Namun bagi masyarakat Melayu, di sanalah cinta keluarga diwujudkan.

 

Di sanalah doa-doa dipanjatkan tanpa banyak suara. Dan di sanalah seorang anak menerima bekal paling berharga untuk menapaki masa depannya: restu dari orang-orang yang menyayanginya.

Ketika acara berakhir, para tamu mulai berpamitan. Bunga rampai perlahan mengering. Lantunan hadroh pun berhenti bergema.

Namun doa-doa yang dititipkan melalui Tepung Tawar tidak ikut pulang bersama para tamu.

Ia akan tetap tinggal. Mengiringi setiap langkah Muhammad Farras Alfarezel dalam perjalanan hidupnya, jauh melampaui satu hari perayaan.

Sebab dalam adat Melayu, Tepung Tawar bukan sekadar ritual.

Ia adalah warisan kasih sayang.

Ia adalah jejak cinta yang ditinggalkan para orang tua kepada anak-anaknya.

Dan ia adalah doa yang menetes dari ujung jemari, lalu hidup selamanya di dalam hati.

Komentar