BATAM — Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026 sukses digelar di Kota Batam, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan yang mempertemukan tradisi Tionghoa dengan beragam kesenian Nusantara tersebut berlangsung meriah dan menjadi salah satu ruang perjumpaan budaya masyarakat Batam.
Pawai yang mengambil titik awal di depan Cardinal Lucky Star Hotel tersebut bergerak menuju kawasan Martabak Har atau sekitar Sari Jaya Hotel.
Sebanyak 68 peserta Khitong dari dalam dan luar negeri ambil bagian dalam kegiatan yang turut menghadirkan berbagai kelompok seni dan budaya Nusantara.
Kesenian Melayu, Padang, Dayak, Reog, silat hingga kesenian dari kawasan Indonesia Timur menjadi bagian dari semarak pawai.
Kehadiran beragam kesenian tersebut semakin memperkuat konsep kegiatan yang tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa, tetapi juga memperlihatkan keberagaman budaya Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan pelaksanaan Pawai Khitong dan Budaya Nusantara menunjukkan bahwa Batam memiliki ruang yang sangat terbuka bagi berbagai komunitas untuk menampilkan dan melestarikan kebudayaannya.
Menurutnya, keberagaman tersebut merupakan salah satu kekuatan Batam yang dapat terus dikembangkan menjadi bagian dari daya tarik wisata.
“Batam ini adalah kota yang sangat beragam. Berbagai budaya hidup berdampingan dan dapat ditampilkan dalam satu ruang yang sama. Ini menjadi kekuatan bagi Batam, karena masyarakat maupun wisatawan bisa melihat langsung bagaimana keberagaman itu menjadi bagian dari kehidupan kita,” ujar Ardiwinata.
Ia menambahkan, kegiatan budaya seperti Pawai Khitong tidak hanya memiliki nilai pelestarian tradisi, tetapi juga dapat memberikan pengalaman wisata yang berbeda bagi pengunjung.
“Budaya bukan hanya tentang menjaga tradisi, tetapi juga bagaimana kita mengemasnya menjadi atraksi yang menarik. Dengan adanya kegiatan seperti ini, wisatawan bisa menikmati Batam tidak hanya dari destinasi wisata, tetapi juga dari kekayaan budaya masyarakatnya,” katanya.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan pelaksanaan ritual sembahyang Thi Kong di salah satu titik kegiatan. Selanjutnya, peserta dari Vihara Cipta Dharma (VCD) dan Vihara Budhi Bhakti (VBB) bergerak menuju titik kumpul di kawasan Cardinal Lucky Star Hotel.
Dari titik tersebut, seluruh peserta kemudian mengikuti pawai menuju kawasan Martabak Har. Pelepasan pawai ditandai dengan penyalaan petasan bersama para pejabat dan tokoh yang hadir.
Kegiatan semakin semarak dengan kehadiran barongsai dan naga yang mengiringi perjalanan peserta. Setelah tiba di lokasi utama, peserta secara bergantian menampilkan atraksi Khitong serta pertunjukan budaya Nusantara di hadapan masyarakat dan tamu undangan.
Sejumlah pejabat dan tokoh hadir menyaksikan langsung pelaksanaan Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026. Di antaranya Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura.
Lalu, Wali Kota Batam Amsakar Achmad, Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri Hasan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata, serta Ketua Umum LAM Kepri Kota Batam YM. H. Raja Muhammad Amin.
Turut hadir Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau Zoztafia, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam H. Budi Dermawan, Sekretaris Jenderal Magabutri Iwan.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Magabutri Wilayah Provinsi Kepri Susanto Theodolite, Ketua Permabudhi Provinsi Kepri Hengky Suryawan, Ketua PSMTI Provinsi Kepri Randy Tan, serta Ketua PSMTI Kota Batam Acun Tan.
Kehadiran para pejabat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pimpinan organisasi tersebut menunjukkan dukungan berbagai pihak terhadap pelestarian budaya sekaligus pengembangan kegiatan budaya sebagai bagian dari sektor pariwisata Batam.
Ketua Panitia Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026, Susanto Theodolite, sebelumnya mengatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan sengaja dikemas dengan konsep budaya Nusantara.
Tradisi Khitong tetap menjadi bagian utama kegiatan, namun dipadukan dengan kesenian dari berbagai daerah Indonesia. Konsep tersebut sekaligus ingin menunjukkan bahwa kebudayaan Tionghoa telah menjadi bagian dari kehidupan kebudayaan Indonesia.
Pawai Khitong sendiri telah beberapa kali dilaksanakan di Batam. Penyelenggaraan tahun 2026 menjadi salah satu momentum untuk kembali memperkenalkan tradisi tersebut kepada masyarakat sekaligus memperluas keterlibatan komunitas budaya.
Bagi Disbudpar Batam, kolaborasi lintas komunitas seperti ini memiliki arti penting dalam membangun ekosistem kebudayaan di daerah.
Ardiwinata menegaskan, pemerintah akan terus mendorong kegiatan yang mampu mempertemukan berbagai komunitas budaya dalam suasana kebersamaan.
“Kita ingin Batam menjadi rumah bersama bagi semua budaya. Ketika budaya Tionghoa, Melayu, Padang, Dayak, Reog, silat dan budaya lainnya bisa tampil bersama, maka yang kita lihat bukan perbedaan, tetapi kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan semacam Pawai Khitong juga memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai agenda pariwisata yang mampu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama karena posisi Batam yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia.
“Ini juga menjadi peluang untuk memperkenalkan Batam kepada wisatawan mancanegara. Kita berharap mereka datang bukan hanya untuk menikmati destinasi, tetapi juga menyaksikan event dan budaya yang ada di Batam,” katanya.
Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026 sekaligus melanjutkan rangkaian kegiatan Batam Kue Bulan Fest yang digelar pada Sabtu (26/9/2026) malam di Golden Prawn 933, Ballroom D, Bengkong Laut.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi Tionghoa dapat dikemas bersama budaya Nusantara dalam satu rangkaian kegiatan yang melibatkan pemerintah, komunitas, pelaku pariwisata dan masyarakat.
Dengan suksesnya pelaksanaan Pawai Khitong 2026, Batam kembali menunjukkan potensi sebagai kota yang memiliki kekayaan budaya sekaligus ruang perjumpaan berbagai komunitas.
Kolaborasi tersebut diharapkan terus berkembang sehingga kegiatan budaya dapat semakin memberikan kontribusi terhadap pelestarian tradisi sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata Kota Batam.














Komentar