BATAM – Kota Batam menjadi titik temu lebih dari 1.700 tenaga kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (Perdosri) ke-25 tahun 2026.
Mengusung tema “Connecting Disability to Practice: Rehabilitation Research for Community Empowerment”, forum ilmiah tersebut tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengetahuan, tetapi juga mendorong agar hasil riset dan inovasi di bidang rehabilitasi dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ketua Panitia Pelaksana PIT Perdosri ke-25, dr. Suroso Agus Widodo, Sp.K.F.R., AIFO-K, mengatakan tingginya partisipasi peserta menunjukkan besarnya perhatian tenaga medis terhadap perkembangan ilmu kedokteran fisik dan rehabilitasi.
“Alhamdulillah tercatat lebih dari 1.700 orang telah membuat akun. Terdiri dari 730 dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, sekitar 630 dokter umum dan residen, serta peserta yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Bahkan tercatat juga peserta dari luar negeri,” ujarnya.
Menurut Suroso, tingginya partisipasi tersebut menjadi gambaran kuatnya semangat para tenaga medis untuk terus meningkatkan kompetensi sekaligus memperkuat kualitas pelayanan rehabilitasi di Indonesia.
Menariknya, penyelenggaraan PIT Perdosri ke-25 berlangsung di tengah berbagai tantangan, mulai dari kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, aktivitas erupsi sejumlah gunung berapi hingga kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya menguntungkan.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan antusiasme peserta untuk datang ke Batam dan mengikuti berbagai agenda ilmiah yang telah disiapkan panitia.
Dorong Riset Tak Berhenti di Ruang Akademik
Suroso menjelaskan, tema PIT Perdosri ke-25 sengaja diarahkan agar penelitian tidak berhenti sebagai temuan akademik, tetapi mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Semangat tersebut kemudian dipadukan dengan filosofi Jembatan Barelang, salah satu ikon Kota Batam.
Jembatan Barelang yang menghubungkan sejumlah pulau di Batam dinilai memiliki filosofi yang selaras dengan dunia rehabilitasi, yakni menjadi penghubung antara penelitian dan praktik, inovasi dan kebutuhan masyarakat, serta pasien dengan kehidupan yang lebih mandiri dan berkualitas.
“Rehabilitasi medis adalah sebuah proses berkesinambungan yang dimulai dari fase awal kehidupan hingga usia lanjut. Rehabilitasi membutuhkan kolaborasi antardisiplin, kesinambungan layanan, serta keterlibatan aktif pasien, keluarga dan komunitas,” jelasnya.
Untuk memperkuat agenda tersebut, panitia menyiapkan sedikitnya 15 workshop, sejumlah satelit simposium serta research competition yang terdiri dari oral presentation dan poster presentation.
Antusiasme terhadap kompetisi penelitian juga cukup tinggi. Tercatat sebanyak 313 peserta ambil bagian dalam research competition tersebut.
Tidak hanya menyasar kalangan tenaga kesehatan, PIT Perdosri ke-25 juga menghadirkan seminar awam sebagai upaya memperkenalkan lebih luas peran dan layanan rehabilitasi medis kepada masyarakat.
Diikuti Puluhan Mitra Industri
PIT Perdosri ke-25 juga menjadi ruang pertemuan antara profesi kesehatan, akademisi, industri dan pemangku kepentingan lainnya.
Sedikitnya 36 booth pameran hadir dengan membawa berbagai produk, teknologi serta inovasi yang berkaitan dengan pelayanan rehabilitasi medis.
Menurut panitia, tingginya minat dari pihak sponsor bahkan membuat sejumlah calon peserta pameran belum dapat diakomodasi karena keterbatasan tempat.
Dukungan tersebut dinilai memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengembangkan layanan rehabilitasi di Indonesia.
Suroso berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat memperkuat empat nilai utama, yakni scientific excellence, professional integrity, collaboration, serta patient-centered care.
“Rehabilitasi memiliki peran sebagai jembatan, menjembatani penelitian dengan praktik, menjembatani inovasi dengan kebutuhan masyarakat, dan yang paling penting adalah menjembatani pasien menuju kehidupan yang lebih mandiri dan berkualitas,” katanya.
Perjalanan Panjang Perdosri Sumbar-Riau-Kepri
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Perdosri, Dr. dr. Rumaisah Hasan, Sp.K.F.R., N.M (K)., FEMG., AIFO-K, mengungkapkan bahwa perjalanan Perdosri Cabang Sumatera Barat-Riau-Kepulauan Riau (Sumbar-Riau-Kepri) untuk menjadi tuan rumah PIT Perdosri ke-25 tidak berlangsung mudah.
Menurutnya, cabang tersebut sebelumnya telah menghadapi hingga empat kali kendala dalam upaya menjadi tuan rumah kegiatan nasional Perdosri.
Namun, berbagai hambatan tersebut justru menjadi pemacu semangat hingga akhirnya Batam dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan PIT Perdosri ke-25.
“Hari ini di Batam, di Cabang Kepri yang menghubungkan Indonesia dengan Asia, Cabang Sumatera Barat-Riau-Kepulauan Riau membuktikan kemampuannya dengan menyelenggarakan PIT Perdosri ke-25,” ujar Rumaisah.
Ia memberikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut sekaligus menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau serta seluruh mitra sponsor yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
PIT Perdosri ke-25 juga menjadi bagian dari momentum Hari Jadi ke-24 Provinsi Kepulauan Riau.
Rumaisah menyampaikan ucapan selamat kepada Pemerintah dan masyarakat Kepri seraya berharap kegiatan tersebut memberikan kontribusi positif bagi daerah.
Rehabilitasi Harus Masuk Sistem Respons Bencana
Perspektif lain turut disampaikan Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. dr. Slamet Budiarto, S.H., M.H.Kes.
Menurutnya, paradigma mengenai rehabilitasi dalam penanganan bencana perlu diperkuat. Rehabilitasi tidak semestinya baru dilakukan setelah fase tanggap darurat berakhir, melainkan harus menjadi bagian integral dari sistem respons bencana sejak tahap awal.
“Rehabilitasi bukan lagi sekadar sesuatu yang datang setelah terjadi bencana, tetapi merupakan bagian integral dan esensial dari fase respons terhadap bencana,” ujarnya.
Ia menilai sistem kebencanaan nasional membutuhkan kesiapan dan kesiapsiagaan yang lebih komprehensif, termasuk dalam aspek rehabilitasi.
Ketersediaan sumber daya dan tenaga profesional juga menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat terdampak bencana memperoleh pelayanan yang dibutuhkan sejak dini.
Menurutnya, pengalaman penanganan berbagai bencana sebelumnya menunjukkan pentingnya keterlibatan tenaga profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah terdampak.
“Pertemuan kali ini adalah momentum lompatan kuantum. Mari kita jadikan forum ini untuk saling mengasah ilmu, memperkuat empati, dan menyatukan visi,” katanya.
Ia berharap PIT Perdosri ke-25 tidak berhenti sebagai forum pertukaran ilmu, melainkan mampu melahirkan gagasan dan pendekatan baru yang dapat diterapkan dalam pelayanan kesehatan.
“Jika kita hadir bersama dengan ilmu, empati dan visi yang sama, mari kita buktikan bahwa kehadiran kita membawa pencerahan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Dengan rangkaian workshop, simposium, kompetisi riset hingga seminar awam, PIT Perdosri ke-25 di Batam diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi lintas disiplin sekaligus mempercepat penerapan hasil penelitian dan inovasi ke dalam praktik pelayanan.
Pada akhirnya, semangat yang dibawa forum tersebut kembali pada satu tujuan: menjadikan rehabilitasi bukan sekadar proses pemulihan, tetapi jembatan bagi pasien untuk kembali menjalani kehidupan secara lebih mandiri dan berkualitas.








Komentar